IHSG Diproyeksi Sideways pada Jumat (28/8), Simak Kata Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 116,07 poin atau 1,81% ke level 6.521,75 pada perdagangan Kamis (27/8/2026). Penguatan terjadi setelah aksi demonstrasi di sekitar Gedung DPR berakhir damai, sehingga meredakan kekhawatiran investor terhadap risiko sosial-politik domestik.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, sentimen positif dari dalam negeri menjadi salah satu pendorong penguatan IHSG.

Demonstrasi yang menuntut pengesahan Undang-Undang (UU) Perampasan Aset berakhir dengan keputusan DPR menargetkan pengesahan aturan tersebut paling lambat pada 15 Desember 2026.


Baca Juga: Rupiah Diprediksi Bergerak Terbatas, Pasar Cermati The Fed dan Geopolitik

"Hal tersebut direspons positif oleh para pelaku pasar, setelah selama beberapa hari terakhir pasar cenderung tertekan mengantisipasi kondisi keamanan di dalam negeri," ujar Alrich kepada Kontan, Kamis (27/8/2026).

Penguatan juga terjadi secara merata di seluruh sektor. Sektor industri mencatat kenaikan paling tinggi, yakni 3,95%.

Namun, penguatan IHSG belum diikuti oleh nilai tukar rupiah. Rupiah justru melemah 0,11% ke level Rp17.744 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah sempat tertekan hingga Rp17.781 per dolar AS.

Dari sisi teknikal, Alrich menilai IHSG berhasil kembali berada di atas rata-rata pergerakan lima hari atau moving average (MA) 5. Sementara itu, histogram indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di area positif.

"Namun Stochastic Relative Strength Index (RSI) bergerak turun di area pivot," katanya.

Dengan kondisi tersebut, Alrich memperkirakan IHSG akan bergerak sideways atau cenderung mendatar pada rentang 6.450-6.580 pada perdagangan Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, pelaku pasar akan mencermati pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) dalam simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8). Agenda tersebut menjadi salah satu perhatian utama karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS.

Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan investor masih cenderung berhati-hati menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan korporasi.

Salah satu perhatian pasar berasal dari data inflasi AS. Indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) inti, yang menjadi salah satu indikator inflasi utama The Fed, naik 0,2% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan pada Juli 2026.

Level inflasi tersebut masih berada di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2%. Kondisi ini membuat ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga AS tetap perlu dicermati.

Selain data ekonomi, investor juga menunggu perkembangan kebijakan The Fed melalui simposium Jackson Hole. Di sisi lain, laporan keuangan Nvidia turut menjadi perhatian karena perusahaan tersebut menjadi salah satu pemain utama dalam perkembangan teknologi kecerdasan buatan secara global.

Nafan menambahkan, ketidakpastian geopolitik terkait potensi eskalasi konflik Rusia-Ukraina juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi pergerakan harga minyak mentah global.

Selain itu, pasar masih mengantisipasi penyesuaian portofolio menjelang rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berlaku mulai 1 September 2026.

Untuk perdagangan Jumat (28/8/2026), Nafan memperkirakan IHSG memiliki level support di 6.454 dan 6.358. Sementara itu, level resistance berada di 6.552 dan 6.654.

Baca Juga: Selamat Sempurna (SMSM) Terima Dividen Rp 34,13 Miliar dari Entitas Anak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News