KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) ditutup melemah 73,54 poin atau 1,13% ke level 6.461,15 pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Tekanan IHSG datang di tengah kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan bahwa harga minyak yang bertahan di level tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi faktor negatif yang memengaruhi pergerakan IHSG.
"Secara teknikal, terjadi pelebaran histogram negatif MACD dan Stochastic RSI berada pada
area oversold," jelas Alrich kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).
Baca Juga: IHSG Ambruk 1,13% ke 6.461, Top Losers LQ45: ESSA, ICBP, BBNI, Selasa (15/9) Dari sisi sektoral, sektor industrial mencatatkan pelemahan terdalam sebesar 1,56%, diikuti sektor keuangan yang turun 1,36%. Tekanan IHSG juga terjadi seiring dengan pelemahan rupiah. Rupiah di pasar spot melemah 0,14% ke level Rp17.694 per dolar AS, mengikuti pelemahan mayoritas mata uang Asia di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan, tekanan terhadap IHSG terutama berasal dari faktor eksternal. Salah satunya adalah kenaikan harga minyak dunia di atas US$100 per barel akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, penguatan
yield US Treasury dan meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat turut memberikan tekanan terhadap pasar saham. Dari dalam negeri, investor masih mencermati arah kebijakan Menteri Keuangan baru Suahasil Nazara. Hal yang menjadi perhatian antara lain kredibilitas fiskal, defisit APBN dan strategi pengelolaan utang.
Baca Juga: IHSG Melemah pada Perdagangan Selasa (15/9) Pagi, BBNI, BMRI, BBRI Top Losers LQ45 "Di sisi lain, sentimen positif dari pergantian Menkeu belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan eksternal dan aksi jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar," kata Nafan. Menurut Nafan, pergerakan IHSG masih cenderung
volatile dan
sideways. Investor juga diperkirakan bersikap lebih selektif menjelang keputusan FOMC.
Ia menilai penguatan IHSG secara berkelanjutan membutuhkan stabilisasi rupiah,
yield global dan harga minyak, disertai kepastian arah kebijakan fiskal domestik. Sementara itu, Alrich memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan tekanan pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji level 6.350 hingga 6.400. Untuk perdagangan Rabu (16/9/2026), Nafan memproyeksikan IHSG bergerak dengan level support di 6.453 dan 6.353. Sementara itu, level resistance berada di 6.552 dan 6.695. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News