KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) diproyeksikan masih bergerak volatil pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Analis memperkirakan, IHSG masih menghadapi tekanan, meski terdapat peluang penguatan apabila sentimen global mulai mereda. Pada perdagangan hari ini (10/9/2026), IHSG ditutup melemah 1,33% atau 88,98 poin ke level 6.589,34. Pelemahan tersebut sejalan dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang juga terkoreksi. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, tekanan IHSG turut berasal dari pelemahan sejumlah sektor, terutama energi dan keuangan. Beberapa saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks juga tercatat mengalami koreksi cukup dalam.
Baca Juga: Investor Asing Intip Obligasi Asia Tenggara di Tengah Tekanan Yield “Untuk besok, kami perkirakan koreksi IHSG relatif terbatas dan berpeluang menguat dengan support 6.576 dan resist 6.616,” ujarnya. Sementara itu, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, IHSG masih cenderung volatil dengan bias melemah. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya kembali memanasnya konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak hingga tembus ke US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi sekaligus mempersempit ruang pelonggaran moneter. Tekanan terhadap aset berisiko juga datang dari kenaikan yield US Treasury 10 tahun yang mencapai sekitar 4,84%, sehingga aset berbasis dolar menjadi relatif lebih menarik bagi investor. Dari dalam negeri, retail sales Juli tumbuh 1,1% secara tahunan (YoY) setelah mengalami kontraksi selama tiga bulan sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan adanya perbaikan konsumsi domestik. Namun sentimen global dinilai masih lebih dominan terhadap pergerakan IHSG. Secara teknikal, Reza melihat IHSG telah kembali berada di bawah level 6.600. Apabila indeks belum mampu kembali menembus atau reclaim level tersebut, IHSG berisiko melanjutkan koreksi menuju 6.475-6.375. Adapun level 6.600 menjadi resistance terdekat, diikuti resistance berikutnya di 6.700.
Baca Juga: Tambah 4 Armada Kapal, MITI Gelontorkan Investasi Senilai Rp 22,75 Miliar Pelaku pasar juga akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), yakni US Consumer Price Index (CPI) Agustus pada 11 September waktu setempat. Konsensus saat ini memperkirakan headline CPI sebesar 3,4% YoY dan core CPI sebesar 2,4% YoY. Jika inflasi AS berada di atas ekspektasi, pasar berpotensi semakin memperhitungkan kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang lebih
hawkish sehingga dapat kembali menekan aset
emerging market, termasuk Indonesia. Sebaliknya, data CPI yang lebih rendah dari ekspektasi dapat membuka peluang
technical rebound pada IHSG. Selain data AS, Herditya memperkirakan, investor akan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta harga sejumlah komoditas, seperti minyak mentah dan batubara.
Untuk pilihan saham, Herditya merekomendasikan investor mencermati saham
CDIA dengan kisaran Rp 730-Rp 760,
UNTR pada Rp 27.400- Rp 27.925, serta
DEWA pada Rp 496 - Rp 530. Sementara itu, Reza melihat sektor komoditas, khususnya batubara dan CPO, masih menarik dalam jangka pendek di tengah kenaikan harga komoditas akibat ketidakpastian geopolitik. Saham yang dapat dicermati antara lain UNTR,
PTBA, dan
JARR. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News