KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan kembali mengalami penguatan pada perdagangan Jumat (20/8/2026) esok. IHSG ditutup di zona hijau pada akhir perdagangan Kamis (20/8/2026). Hari ini, IHSG naik 1,68% ke level 6.501,58 pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Total volume perdagangan saham di BEI mencapai 42,93 miliar dengan nilai transaksi Rp 14,95 triliun. Ada sebanyak 452 saham yang menguat, 190 saham yang melemah dan 150 saham yang stagnan.
Baca Juga: IHSG Melonjak 1,68% ke 6.501, Top Gainers LQ45: MBMA, AMMN, HRTA, Kamis (20/8) Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan, penguatan IHSG hari ini menunjukkan bahwa minat beli mulai kembali menguat setelah pasar sebelumnya bergerak cukup volatil. Penguatan juga relatif didukung saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BYAN. Sementara, AMMN dan BRMS menjadi motor utama kenaikan dengan penguatan masing-masing 7,97% dan 9,60%. Dari sisi arus dana, investor asing juga mulai memberikan sinyal positif dengan mencatatkan net buy sekitar Rp733 miliar. Ini penting karena salah satu persoalan utama pasar domestik sepanjang tahun ini adalah tekanan jual asing yang cukup besar. “Ketika asing mulai berbalik melakukan akumulasi, setidaknya tekanan terhadap IHSG menjadi lebih ringan dan ruang bagi indeks untuk melanjutkan
technical rebound semakin terbuka,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (20/8/2026). Dari sisi teknikal, keberhasilan IHSG menembus
resistance 6.454–6.491 menjadi sinyal positif karena level tersebut sebelumnya menjadi area yang perlu dilewati untuk mengonfirmasi keberlanjutan
rebound. Menurut Hendra, selama IHSG mampu bertahan di atas area tersebut, peluang penguatan menuju
resistance berikutnya di 6.877–6.971 masih terbuka. Namun, kenaikan satu hari sebesar 1,68% juga perlu diwaspadai agar investor tidak langsung mengejar harga terlalu agresif. Setelah kenaikan yang cukup cepat, sangat mungkin terjadi profit taking atau konsolidasi jangka pendek, terutama pada saham-saham yang sudah mengalami kenaikan signifikan. Oleh karena itu, level 6.491 menjadi area penting untuk diperhatikan. Jika mampu bertahan di atas level tersebut, tren penguatan masih relatif sehat. Sebaliknya, apabila kembali turun di bawahnya, IHSG berpotensi menguji support terdekat di sekitar MA50 pada 6.295.
Baca Juga: IHSG menguat 1,47% ke 6.487 Sesi I Kamis (20/8), MBMA, HRTA, AMMN Top Gainers LQ45 “
Support berikutnya berada di 6.000–6.029 dan menjadi area yang cukup penting untuk menjaga struktur
rebound IHSG,” paparnya. Untuk perdagangan Jumat (21/8/2026) besok, IHSG diperkirakan masih memiliki peluang melanjutkan penguatan dengan kisaran pergerakan sekitar 6.450–6.600. Skenario positif terbuka apabila IHSG mampu bertahan di atas 6.491 dan terutama jika kembali mendapatkan dukungan dari saham-saham big caps serta aliran dana asing. Namun, setelah kenaikan yang cukup tinggi pada perdagangan Kamis, potensi
profit taking tetap ada sehingga pergerakan bisa lebih volatil. Dengan demikian, pasar sebaiknya tidak hanya melihat apakah IHSG naik atau turun, tetapi juga mencermati kualitas kenaikannya, khususnya apakah penguatan kembali disertai
net buy asing dan peningkatan aktivitas transaksi. Jika kedua faktor tersebut konsisten,
rebound IHSG berpotensi berkembang menjadi tren pemulihan yang lebih kuat. “Dalam jangka lebih panjang, target teknikal berada di area 6.877–6.971, tetapi untuk mencapainya IHSG perlu terlebih dahulu melewati beberapa fase konsolidasi,” paparnya. Dari sisi sentimen, faktor domestik masih menjadi penopang utama, terutama mulai membaiknya
risk appetite investor setelah IHSG mampu melewati
resistance penting dan munculnya kembali
net buy asing. Selain itu, investor juga akan mencermati perkembangan pasar global, pergerakan rupiah, harga komoditas, serta arah kebijakan suku bunga global.
Baca Juga: IHSG Menguat pada Perdagangan Kamis (20/8) Pagi, AMMN, HRTA, DEWA Top Gainers LQ45 Hendra bilang, karena IHSG saat ini sudah bergerak cukup agresif, sentimen eksternal tetap dapat memicu volatilitas apabila pasar global mengalami koreksi.
Artinya, fondasi
rebound sudah mulai terbentuk, tetapi belum tepat jika kenaikan satu hari langsung dianggap sebagai perubahan tren jangka panjang. “Pasar masih membutuhkan konfirmasi berupa kemampuan IHSG bertahan di atas
resistance yang baru ditembus serta keberlanjutan akumulasi investor asing,” paparnya. Hendra pun merekomendasikan
trading buy untuk SRTG, BRMS, dan SCMA dengan target harga masing-masing Rp 2.100 per saham, Rp 750 per saham, dan 250 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News