KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan menguat pada perdagangan Senin (24/5/2026). IHSG ditutup menguat 67,10 poin atau 1,10% ke 6.162,04 pada akhir perdagangan Jumat (22/5/2026) kemarin. Meskipun begitu, IHSG masih mengakumulasi penurunan 8,35% dalam sepekan. VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi melihat, tertekannya IHSG pekan lalu dipengaruhi oleh sentimen rencana sentralisasi ekspor komoditas melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI) yang dipandang akan menurunkan margin emiten komoditas. Ini seiring dengan tekanan harga jual rerata alias average selling price (ASP) yang tidak ada fleksibilitas dengan pembeli premium.
Baca Juga: Cakra Buana (CBRE) Bakal Rights Issue, Andry Hakim dan Gabriel Rey Jadi Standy Buyer Selain itu, nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp 17.712 meski setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga 50 basis poin (bps). “Kami melihat pasar terus berharap intervensi tetap dilakukan supaya target normalisasi Rupiah dapat terjadi,” katanya kepada Kontan, Minggu (24/5/2026). Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, pelemahan IHSG sepekan telah diikuti dengan aksi
net foreign sell mencapai Rp 1,86 triliun di pasar reguler. “Tekanan terjadi akibat kombinasi sentimen domestik dan global yang membuat pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati,” ujarnya kepada Kontan, Minggu. Audi memperkirakan, IHSG pada Senin (25/5/2026) esok bergerak
mixed cenderung menguat terbatas dalam rentang level
support 5.909 dan
resistance 6.305, dengan indikator RSI mulai terjadi pembalikan arah di zona
oversold. Besok pasar akan dipengaruhi sentimen pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang mengatakan adanya kemajuan pembicaraan damai dengan Iran, sehingga pasar akan cenderung berspekulasi positif. “Dari dalam negeri, pasar akan cenderung wait and see seiring dengan pergerakan rupiah yang dikhawatirkan melanjutkan pelemahan dan hari bursa yang lebih singkat,” katanya.
Baca Juga: Pilah-Pilih Saham Emiten Pemilik Tambang Emas untuk Senin (25/5), Ini Paling Favorit Audi pun merekomendasikan
speculative buy untuk
INKP dan
MBMA pada perdagangan besok. Untuk
INKP,
support ada di Rp 7.600 per saham dan
resistance Rp 8.650 per saham. Sementara, MBMA
support ada di Rp 420 per saham dan
resistance Rp 550 per saham. Reza melihat, IHSG secara teknikal saat ini sudah berada di area support psikologis yang cukup penting, mendekati level terendah saat
market shock 2025 di kisaran 5.800–5.900. Dengan kondisi yang sudah cukup
oversold, peluang
technical rebound pada awal pekan tetap terbuka selama IHSG mampu bertahan di atas area
support tersebut. Untuk Senin, IHSG pun diperkirakan bergerak dalam rentang 5.900–6.300, dengan area resistance berada di kisaran 6.300–6.400. Menurut Reza, pasar masih akan mencermati perkembangan terkait regulasi sentralisasi ekspor komoditas strategis, terutama mengenai mekanisme dan implementasinya yang sejauh ini masih memunculkan berbagai interpretasi dari sejumlah pihak. Di sisi lain, pasar juga menantikan
rebalancing indeks MSCI yang efektif pada 29 Mei 2026. “Potensi
capital outflow masih perlu diwaspadai, khususnya pada saham-saham yang terdampak pengurangan bobot indeks,” paparnya.
Baca Juga: BI Akan Terus Intervensi, Begini Kisaran Pergerakan Rupiah Senin (25/5) Reza merekomendasikan
buy on break di Rp 490 per saham untuk MBMA dengan target resistance Rp 496 - 505 per saham. Rekomendasi beli untuk ESSA dengan target
resistance Rp 725 - Rp 750 per saham. Sementara, rekomendasi
trading buy untuk CPIN dengan target
resistance Rp 4.400 - Rp 4.500 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News