KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,22% atau turun 66,17 poin ke level 5.373,09 pada perdagangan Senin (26/10/2026). Pelemahan ini terjadi setelah IHSG
rebound pada pekan sebelumnya. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, pelemahan IHSG dipicu aksi
profit taking setelah penguatan pada pekan lalu dan indeks sempat kembali menguji level psikologis 5.400. Tekanan juga datang dari pelemahan rupiah yang kembali bergerak di kisaran Rp 18.100 per dolar AS. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar keuangan domestik dan berpotensi membatasi minat investor terhadap aset berisiko.
Baca Juga: Lima Emiten Tebar Dividen, Investor Perlu Cermati Dividend Trap Memasuki pekan ini, Reza menyebut ada tiga katalis utama yang dicermati pasar. Pertama, rilis laporan keuangan kuartal III 2026 yang berpotensi memicu pergerakan sektoral dan seleksi saham berdasarkan kinerja fundamental. Kedua, kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan transparansi indeks di tengah konsultasi MSCI terkait status pasar Indonesia. Ketiga, keputusan suku bunga The Fed pada 29 Oktober. Berdasarkan kalender ekonomi yang dipantau, konsensus memperkirakan suku bunga akan dipertahankan di level 3,75%-4,00%. “Secara teknikal, IHSG belum mampu menembus resistance terdekat di 5.455 dan berpotensi bergerak konsolidatif dengan peluang technical rebound selama bertahan di atas support 5.246-5.326. Tren masih bearish karena indeks berada di bawah MA20 (5.774) dan MA200 (6.933), sementara MACD masih negatif dengan garis MACD di bawah signal line. Jika support mampu dipertahankan, IHSG berpeluang rebound untuk kembali menguji resistance 5.455-5.545,” ujar Reza kepada Kontan (26/10/2026). Untuk saham, Reza merekomendasikan untuk mencermati AADI, BBNI, TLKM. Sejalan dengan itu, Tim Riset Bumiputera Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas pada perdagangan Selasa (27/10). Pergerakan indeks masih dipengaruhi pemulihan teknikal yang belum solid, tekanan terhadap rupiah, serta sikap hati-hati investor menjelang keputusan FOMC. Menurut riset tersebut, peluang rebound teknikal masih terbuka, tetapi belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren. Secara teknikal, IHSG kembali berada di bawah EMA 5 di level 5.390,76, EMA 10 di 5.493,99, dan EMA 50 di 6.015,74, yang menunjukkan tren bearish masih dominan. Indikator MACD juga masih berada di area negatif dan di bawah signal line. Adapun Stochastic mulai meningkat meskipun belum memasuki area netral. Kondisi ini mengindikasikan adanya upaya pemulihan momentum jangka pendek, tetapi belum didukung konfirmasi penguatan yang berkelanjutan.
Baca Juga: Waspada! Meski Harga Turun, Gangguan Jalur Logistik Bisa Genjot Minyak ke US$ 140 Bumiputera Sekuritas memperkirakan IHSG menguji area support 5.308-5.350 dengan resistance 5.390-5.440. Jika menembus resistance, indeks berpeluang menguat menuju 5.490-5.500. Sebaliknya, jika melemah di bawah 5.308, risiko koreksi menuju 5.200-5.250 akan meningkat. Dari sisi global, perhatian investor tertuju pada FOMC 27–28 Oktober 2026, dengan ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga di tengah kekhawatiran terhadap tekanan inflasi energi. Indeks dolar AS (DXY) berada di kisaran 101,65, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun turun menjadi 4,967% dan harga minyak Brent masih relatif tinggi di sekitar US$ 114,50 per barel, meskipun terkoreksi hampir 2%. Penurunan yield obligasi AS dan harga minyak berpotensi memberikan ruang pemulihan bagi aset
emerging market. "Namun, ketegangan geopolitik Timur Tengah dan publikasi kinerja emiten teknologi besar AS masih menjadi sumber volatilitas pasar,” tuturnya. Dari sisi domestik, keputusan FTSE Russell mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Secondary Emerging Market tanpa memasukkannya ke dalam watchlist menjadi sentimen positif bagi kepercayaan investor. Dukungan juga datang dari perpanjangan kebijakan pembelian kembali saham atau buyback tanpa RUPS oleh OJK hingga Juni 2027. Meski demikian, ketidakpastian evaluasi MSCI terkait potensi reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market masih membayangi pasar. Proses konsultasi tersebut berlangsung hingga 30 April 2027 dan berpotensi membuat investor asing tetap selektif serta meningkatkan risiko penyesuaian portofolio. Bumiputera Sekuritas juga menyoroti pelemahan rupiah yang terjadi di tengah dolar AS yang relatif stabil dan penurunan yield US Treasury. Kondisi ini mengindikasikan tekanan terhadap aset domestik turut dipengaruhi peningkatan persepsi risiko Indonesia, terutama terkait isu MSCI dan arus modal asing. Tekanan tersebut juga tercermin dari kenaikan yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun menjadi 7,46% pada perdagangan Senin (26/10). Meskipun Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% dan memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar, efektivitas kebijakan tersebut dalam menjaga kepercayaan investor masih perlu dicermati.
Baca Juga: Arah Gerak Rupiah Dibayangi Ketidakpastian Konflik Timur Tengah dan Pertemuan The Fed Pergerakan rupiah pada kisaran Rp 18.100-Rp 18.150 per dolar AS menjadi salah satu indikator penting bagi arah IHSG. Pelemahan rupiah melampaui Rp 18.150 berpotensi meningkatkan tekanan jual, terutama pada saham berkapitalisasi besar. Sebaliknya, penguatan rupiah kembali ke bawah Rp 18.100 dapat membantu meredakan tekanan pasar dan mendukung rebound teknikal. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Bumiputera Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 5.308-5.440 pada Selasa (27/10). Strategi yang disarankan adalah selective buy on weakness pada saham berfundamental kuat, sembari mencermati stabilitas rupiah, arus modal asing, dan perkembangan sentimen global. Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai IHSG ditutup melemah di tengah pelemahan rupiah. Pada perdagangan Senin (26/10), seluruh sektor melemah dengan tekanan terbesar berasal dari sektor infrastruktur, teknologi, dan energi.
Menurut Alrich, kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah menjadi pendorong koreksi IHSG setelah indeks menguat selama beberapa hari pada pekan sebelumnya. Rupiah melemah 0,2% ke level Rp 18.127 per dolar AS. “Secara teknikal, IHSG kembali ditutup di bawah level 5,400, namun masih bertahan di atas level MA5. Histogram negatif MACD berlanjut menyempit dan Stochastic RSI bergerak di area pivot. Sehingga diperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 5,280-5,450,” ujar Alrich. Adapun untuk perdagangan Selasa (27/10), Reza Diofanda merekomendasikan saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News