KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat lebih dari 4% pada penutupan perdagangan Senin (15/6/2026), seiring reli pasar saham Asia yang dipicu meredanya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Mengutip data RTI, IHSG ditutup menguat 4,12% atau 247,31 poin ke level 6.254,97. Sebanyak 603 saham menguat, 125 saham melemah, dan 90 saham bergerak stagnan.
Baca Juga: Hatten Bali (WINE) Bagi Dividen Rp3,5 per Saham, Setara 24% Laba 2025 Aktivitas perdagangan juga terbilang ramai dengan volume transaksi mencapai 54,5 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 30,1 triliun. Penguatan IHSG ditopang seluruh indeks sektoral. Tiga sektor yang mencatat kenaikan tertinggi yakni IDX Basic yang melonjak 7,26%, disusul IDX Finance sebesar 5,23%, serta IDX Industry yang naik 4,51%.
Baca Juga: TOOL Andalkan Ekspansi Airwheel untuk Pulihkan Kinerja pada 2026 Di jajaran saham unggulan, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (
TOWR) memimpin penguatan dengan kenaikan 13,37% ke level Rp 390 per saham. Selanjutnya, PT Darma Henwa Tbk (
DEWA) menguat 12,12% dan PT Hartadinata Abadi Tbk (
HRTA) naik 11,28% ke Rp 2.170 per saham.
Sebaliknya, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar di kelompok LQ45 antara lain PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (
AADI) yang turun 4,34% ke Rp 8.275, PT Medco Energi Internasional Tbk (
MEDC) yang terkoreksi 3,67% ke Rp 1.180, serta PT AKR Corporindo Tbk (
AKRA) yang melemah 2% ke Rp 1.225.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Menguat 0,85% ke Rp 17.709 per Dolar AS pada Senin (15/6) Sentimen positif datang dari pasar global. Bursa Asia melanjutkan penguatan setelah AS dan Iran menyepakati kerangka awal perdamaian yang membuka peluang berakhirnya konflik di Timur Tengah. Kesepakatan tersebut mendorong harga minyak dunia turun tajam dan memunculkan harapan bahwa tekanan inflasi global akan mereda. Mengutip
Reuters, indeks MSCI Emerging Markets Asia naik 3,1% dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Bursa Korea Selatan melonjak 5,2%, sementara Taiwan menguat 2,8%. Kesepakatan sementara AS-Iran juga menekan harga minyak mentah ke bawah US$ 80 per barel untuk pertama kalinya sejak Maret 2026. Penurunan harga energi dinilai menjadi katalis positif bagi aset-aset negara berkembang yang sebelumnya terbebani oleh lonjakan biaya energi. "Ini positif untuk aset berisiko, positif bagi mata uang negara berkembang, dan negatif bagi dolar AS," kata Market Strategist Westpac, Imre Speizer.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Reli, Ini Level yang Perlu Dicermati Investor Reli juga terjadi di sejumlah bursa regional lainnya. Indeks saham Filipina bahkan melonjak hingga 7% dan mencatat kinerja intraday terbaik sejak Maret 2020.
Ekonom Barclays yang dipimpin Brian Tan menilai penurunan harga minyak berpotensi mengurangi tekanan inflasi sekaligus meredakan risiko perlambatan ekonomi global. "Hal ini dapat mendorong bank sentral untuk menunda langkah kebijakan berikutnya dan memberikan lebih banyak waktu untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi sebelum melakukan pengetatan lebih lanjut," tulis Barclays dalam risetnya. Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa dampak inflasi akibat konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir masih berpotensi bertahan dalam jangka pendek sehingga pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan bank sentral global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News