KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) melihat jangka waktu investasi reksadana dapat disesuaikan dengan profil dan tujuan masing-masing investor. Di tengah fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan tren kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN), investor disarankan tetap melihat peluang investasi sekaligus menerapkan manajemen risiko. Head of Investment Specialist MAMI Freddy Tedja melihat bahwa dalam kondisi pasar seperti sekarang, horizon investasi menjadi salah satu faktor yang paling menentukan. Volatilitas pasar biasanya paling terasa dalam jangka pendek, tetapi pengaruhnya cenderung menurun seiring semakin panjangnya horizon investasi.
Investor yang memiliki horizon investasi beberapa bulan akan sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar, pergerakan nilai tukar, kebijakan suku bunga, maupun arus dana asing. Sebaliknya, investor dengan horizon investasi beberapa tahun akan lebih banyak menikmati dampak dari pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan laba perusahaan, serta akumulasi kupon obligasi.
Baca Juga: IHSG Menguat 1,04% ke 6.409 pada Jumat (7/8), ISAT, INDY, BUMI Jadi Top Gainers LQ45 “Karena itu, kami memandang reksadana saham dan campuran lebih sesuai untuk tujuan jangka panjang, sementara reksadana pendapatan tetap cocok untuk horizon menengah hingga panjang. Adapun reksadana pasar uang lebih sesuai untuk kebutuhan likuiditas dalam jangka pendek,” jelas Freddy kepada Kontan, Jumat (7/8/2026). Freddy bilang bahwa hal yang sering terlewat adalah sebagian besar return investasi justru diperoleh setelah periode volatilitas yang tinggi. Karena itu, bagi investor yang memiliki tujuan investasi beberapa tahun ke depan, fokus seharusnya bukan mencari kapan pasar mencapai titik terendah, melainkan memastikan tetap memiliki eksposur pada aset berkualitas dan melakukan akumulasi secara disiplin. Data historis IHSG juga menunjukkan bahwa strategi investasi bertahap atau dollar cost averaging tetap mampu menghasilkan hasil yang kompetitif tanpa harus menebak timing pasar secara sempurna.
Baca Juga: Aspirasi Hidup (ACES) Untung Besar dari Dolar AS Laba Naik, Ini Dampak Masuknya ACE “Intinya, kami melihat kondisi saat ini bukan sebagai periode untuk menghindari risiko sepenuhnya, melainkan periode untuk meningkatkan kualitas portofolio,” ucap Freddy.
Freddy mengatakan, yield obligasi yang lebih tinggi dan valuasi saham yang lebih murah berarti peluang investasi justru semakin terbuka bagi investor yang memiliki disiplin dan horizon investasi yang cukup panjang. “Bagi investor, pendekatan yang lebih relevan saat ini adalah melakukan akumulasi bertahap sembari mempertahankan diversifikasi lintas aset,” terangnya. Dengan demikian, kondisi pasar yang berfluktuasi tidak serta-merta menjadi alasan bagi investor untuk keluar sepenuhnya dari pasar. Penyesuaian alokasi aset berdasarkan profil risiko, tujuan investasi, serta jangka waktu investasi menjadi penting agar investor dapat memanfaatkan peluang sekaligus menjaga risiko portofolio. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News