KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) diproyeksikan bakal bergerak positif sepanjang bulan April 2026. IHSG ditutup di zona hijau pada awal bulan April 2025 ini. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, IHSG melonjak 1,92% atau bertambah 136,21 poin ke level 7.184,43 pada penutupan perdagangan, Rabu (1/4/2026). Hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatatkan inflasi tahunan sebesar 3,48% year on year (yoy) pada Maret 2026. Inflasi ini lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai 4,76% yoy.
Sementara inflasi bulanan sebesar 0,41%
month to month (mtm) pada Maret 2026, turun dari bulan sebelumnya yang mencapai 0,68% mtm.
Baca Juga: Inflasi Maret 2026 Diproyeksi Melandai Meski Ada Tekanan Harga Pangan Efek Lebaran Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas mengatakan, realisasi ini di bawah konsensus pasar yang sebesar 0,56% MoM ini menandakan tekanan harga lebih rendah dari ekspektasi. Sebagai gambaran, secara
year-to-date (YTD), inflasi mencapai 0,94% dan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 110,50 menjadi 110,95. Inflasi tetap terjadi saat Ramadan–Lebaran, namun lebih rendah dari pola historis. “Hal ini mengindikasikan bahwa daya beli belum terlalu kuat dan tekanan harga relatif terkendali,” katanya dalam riset tanggal 1 April 2026. Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan mengatakan, IHSG cenderung bergerak variatif mengikuti bursa regional. Jika inflasi lebih rendah dari ekspektasi, peluang
rebound terbuka. “Jika lebih tinggi, tekanan bisa berlanjut,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (1/4/2026). Menurut David, IHSG pada bulan April berpotensi
sideways dengan peluang
technical rebound, jika ditopang dengan data inflasi domestik, arus dana asing, serta perkembangan sentimen global/geopolitik.
Baca Juga: Ekonom Proyeksi Inflasi Maret 2025 Turun, Didorong Penurunan Harga Emas Alhasil, investor pun bisa fokus ke saham likuid dan defensif, sambil mencicil saham
value atau
oversold saat koreksi. Bulan April-Mei ini akan masuk musim dividen, sehingga sektor perbankan
big caps seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (
BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI) bisa dilirik.
“Sektor energi batubara juga menarik untuk diperhatikan dengan historikal imbal hasil yang menarik,” katanya. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus melihat, kenaikan IHSG di hari pertama bulan April ini terjadi setelah ada tanda-tanda bahwa konflik di Timur Tengah akan berakhir “Saham-saham dari sektor energi dan komoditas masih berpotensi mengalami kenaikkan, terutama yang berkorelasi positif terhadap sentimen geopolitik seperti minyak, gas, dan emas,” katanya kepada Kontan, Rabu. IHSG pun diproyeksikan bakal naik secara konsisten sepanjang April 2026 jika mampu melewati level 7.300.
Baca Juga: IHSG Tertekan di Akhir Kuartal I, Bagaimana Prospek Pergerakan IHSG Selanjutnya? “Dengan kondisi saat ini, investor pun disarankan untuk memerhatikan sentimen domestik dan global serta memastikan profil risiko investasi,” ungkapnya. Nico pun merekomendasikan emiten yang memiliki fundamental kuat, tetapi mengalami penurunan harga semakin membuat valuasi menjadi lebih menarik. “Misalnya, ANTM, EMAS, PGAS, BULL, BUVA, MINA, BBCA, dan BBNI,” paparnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News