IHSG hingga Rupiah Melemah, Investor Perlu Mengelola Risiko Investasi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga rupiah tengah dalam tren melemah. Sebab itu, investor perlu mempertimbangkan berbagai aspek dalam mengelola portofolio investasinya. Tercatat IHSG sudah melemah sekitar 18% sejak awal tahun ini dan rupiah telah melemah di kisaran Rp 17.200 - Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Financial Planner sekaligus CEO and Founder Finansialku Melvin Mumpuni mengatakan, kondisi pasar saat ini menunjukkan kombinasi tekanan yakni koreksi IHSG yang cukup dalam dan pelemahan rupiah.

“Dalam situasi seperti ini, strategi yang relevan bukan mengejar return tinggi, tetapi mengelola risiko dan menjaga likuiditas,” ujar Melvin kepada Kontan, Selasa (28/4/2026). 


Baca Juga: Kinerja Indosat (ISAT) Diprediksi Masih Solid di 2026, Cek Rekomendasi Sahamnya

Melvin menyarankan beberapa pendekatan yang bisa dipertimbangkan dalam kondisi seperti saat ini. Antara lain pendekatan dollar cost averaging yakni investasi bertahap untuk saham atau reksadana saham, khususnya pada sektor dengan fundamental kuat. Memperbesar porsi aset defensif seperti obligasi atau instrumen pasar uang, untuk menjaga stabilitas portofolio. Serta menjaga cash buffer agar investor punya fleksibilitas memanfaatkan peluang saat volatilitas tinggi.

“Jika investasi Anda (saham atau reksadana) mengalami penurunan, maka coba review kembali, apakah koreksi ini sesaat atau jangka Panjang,” terang Melvin. 

Melvin menambahkan, jika investor ingin melakukan diversifikasi aset global, (aset berbasis USD), lakukan dengan selektif dan selalu mengecek legalitasnya. Sebab, di Indonesia ada beberapa reksadana saham dan reksadana obligasi global berbasis mata uang USD. 

Lebih lanjut Melvin melihat beberapa faktor utama yang perlu dicermati sebelum berinvestasi ke depan. Antara lain, kebijakan suku bunga global, terutama arah kebijakan bank sentral seperti The Fed. Stabilitas nilai tukar rupiah, karena akan berdampak langsung pada inflasi dan arus modal asing. Kondisi geopolitik dan ekonomi global, termasuk tensi perdagangan dan perlambatan ekonomi.

Baca Juga: Eastparc (EAST) Bagi Dividen Interim dengan Potensi Yield 4,13%, Simak Jadwalnya

Berikutnya, kinerja fundamental emiten, khususnya terkait profitabilitas dan daya tahan terhadap tekanan ekonomi. Serta kebijakan domestik, termasuk fiskal dan regulasi yang mempengaruhi iklim investasi. 

Berikut alokasi aset investasi yang dapat dipertimbangkan. Penyesuaian tetap harus melihat  tujuan dan strategi investasi: 

Investor konservatif

  • 40%: pasar uang, deposito, emas dan setara kas. 
  • 40%: obligasi / fixed income. 
  • 30%: saham blue chip atau dividend play. 
Investor moderat

  • 20%: pasar uang, deposito, emas dan setara kas. 
  • 50%: obligasi / fixed income. 
  • 30%: saham value stock atau dividend play. 
Investor agresif

  • 20%: pasar uang, deposito, emas dan setara kas. 
  • 30%: obligasi / fixed income. 
  • 50%: saham value stock atau dividend play.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News