IHSG Jadi Indeks Terburuk di Kawasan, Valuasi Murah Belum Cukup Pikat Asing



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan di tengah penguatan bursa regional. IHSG ambruk 3,49% atau turun 184,25 poin ke posisi 5.098,05 pada akhir perdagangan Kamis (29/10).

Alhasil, IHSG telah anjlok 41,04% sepanjang tahun berjalan alias year to date (ytd). Ini  menjadikan pasar saham Indonesia salah satu yang terburuk di kawasan, ketika sejumlah bursa regional justru mengalami reli. .

Bursa Jepang, misalnya, tercermin dari indeks Nikkei 225 yang ditutup menguat 1,10% pada Kamis (29/10). Sepanjang tahun berjalan, indeks tersebut melesat 28,45%, berbanding terbalik dengan kinerja IHSG.


TSE Weighted, indeks asal Taiwan, ditutup melemah 1,42% secara harian. Namun, indeks tersebut masih mencatat kenaikan 60,08% sepanjang 2026, menjadi salah satu indeks dengan kinerja terbaik dunia.

Baca Juga: IHSG Anjlok 3,49% ke 5.098 pada Kamis (29/10), WIFI, BRPT, INDY Jadi Top Losers LQ45

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menjelaskan valuasi IHSG telah berada di level krisis, dengan forward P/E MSCI Indonesia turun ke 7,3 kali.

Menurutnya, valuasi tersebut merupakan yang terendah sejak krisis keuangan global dan berada sekitar minus tiga standar deviasi dari rata-rata 10 tahun. PBV IHSG tercatat 1,06 kali.

Audi bilang valuasi murah belum otomatis memicu pembelian asing karena investor membutuhkan kepastian. Menurutnya, pembekuan penyesuaian indeks oleh MSCI masih membatasi akumulasi saham Indonesia.

“Masalah utamanya struktural. MSCI menilai klasifikasi Indonesia sebagai Emerging Market tidak lagi tepat, dengan keputusan final paling lambat akhir Juni 2027,” jelasnya kepada Kontan, Kamis (29/10/2026). 

Selain persoalan MSCI, tekanan makroekonomi dalam negeri juga belum mereda. Audi menyoroti rupiah yang menembus rekor terendah serta kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).

“Arus masuk asing membutuhkan reformasi nyata terkait free float, transparansi kepemilikan dan penindakan transaksi terkoordinasi. Stabilitas rupiah serta kredibilitas kebijakan dan fiskal juga diperlukan,” katanya. 

Dalam catatan Kiwoom Sekuritas, tekanan jual asing terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar, terutama empat bank besar. Di mana, BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI secara akumulas mencatatkan jual asing Rp 67,2 triliun sepanjang 2026.

Audi menjelaskan nilai tersebut setara 61% dari total arus keluar asing di pasar reguler. Menurunnya, konsentrasi aksi jual itu terjadi karena saham bank besar punya likuiditas dan banyak dimiliki investor asing.

Di sisi lain, Audi menilai tekanan jual lebih mencerminkan reposisi alokasi investor daripada penurunan fundamental emiten bank besar Tanah Air itu. Kondisi tersebut turut menekan PBV bank ke kisaran 1,2 kali–1,3 kali.

Baca Juga: IHSG Anjlok 2,6% ke 5.142,8 di Sesi Pertama, Top Losers LQ45: ISAT, BRPT, WIFI

Di sisi lain, VP Investment Growth Specialist Korea Investment and Sekuritas Indonesia Ahmad Faris Mu'tashim juga melihat valuasi perbankan besar sudah sangat murah, meski pembelian asing berkelanjutan masih sulit.

Namun, Faris menilai masuknya kembali dana asing secara berkelanjutan masih sulit selama Indonesia mengalami pembekuan perubahan oleh MSCI. Jika terjadi pembelian saham Indonesia oleh investor asing, Faris memperkirakan transaksi tersebut masih bersifat taktis, bukan akumulasi berkelanjutan. 

“Mengingat freeze yang dialami Indonesia, dan banyak dana asing yang menggunakan MSCI sebagai indeks acuan, maka akan sulit investor asing mengakumulasi saham Indonesia secara sustain,” katanya kepada Kontan, Rabu (28/10). 

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama Indonesia belum tentu lebih murah dibandingkan bursa regional secara keseluruhan. Namun arus masuk asing berpeluang kembali secara bertahap jika rupiah stabil dan kepastian regulasi membaik.

Untuk itu, Elandry menyarankan investor menghindari pembelian agresif sekaligus dan memilih strategi akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat dan punya likuiditas tinggi, yakni saham BBCA, BMRI, BBRI, BBNI, dan TLKM. 

Sementara dari sisi strategi investasi, Ahmad menyarankan reksa dana pasar uang atau obligasi berjangka pendek bagi kebutuhan likuiditas. Menurutnya, investor jangka panjang juga dapat mempertimbangkan saham komoditas sebagai jangkar portofolio.

Baca Juga: IHSG Melemah ke 5.270,3 di Pagi Ini (29/10), Top Losers LQ45: ISAT, CUAN, ASII

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News