IHSG Jatuh 1,06% ke 6.154,9 Sesi I Kamis (18/6), Top Losers: Saham TLKM, SMGR, ISAT



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi pada perdagangan sesi pertama Kamis (18/6/2026), berlawanan arah dengan mayoritas bursa saham Asia yang bergerak menguat.

Mengutip data RTI hingga pukul 12.00 WIB, IHSG turun 1,06% atau 65,816 poin ke level 6.154,924. Sebanyak 417 saham melemah, 225 saham menguat, dan 158 saham bergerak stagnan.

Baca Juga: Jelang Pengumuman RDG BI, Rupiah Melemah ke Rp 17.796 per Dolar AS di Tengah Hari


Volume perdagangan mencapai 14,9 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 10 triliun.

Tekanan terhadap IHSG terutama berasal dari tujuh indeks sektoral yang bergerak di zona merah. Tiga sektor dengan penurunan terdalam yakni IDX-Infra yang melemah 2,03%, IDX-Finance turun 1,46%, dan IDX-Health terkoreksi 1,41%.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Emiten yang Mau Private Placement, Mana yang Paling Menarik

Di jajaran saham LQ45, pelemahan terdalam dialami oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang merosot 7,77% ke Rp 2.730. Disusul PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang turun 4,72% ke Rp 1.515 dan PT Indosat Tbk (ISAT) yang terkoreksi 3,77% ke Rp 1.785.

Sementara itu, saham-saham yang menjadi penopang indeks di antaranya PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang melonjak 5,86% ke Rp 2.890, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang naik 3,91% ke Rp 372, serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang menguat 2,20% ke Rp 5.100.

Baca Juga: OJK Tetapkan Direksi BEI Periode 2026-2030, Ini Daftar Lengkapnya

 
TLKM Chart by TradingView

Di tengah pelemahan IHSG, mayoritas pasar saham negara berkembang (emerging markets/EM) Asia justru mencatat penguatan, didorong reli saham teknologi dan meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi kawasan.

Pasar saham Korea Selatan menjadi sorotan setelah indeks KOSPI melonjak lebih dari 1,5% dan untuk pertama kalinya menembus level psikologis 9.000. Penguatan tersebut turut mendorong indeks saham Taiwan naik hampir 1%.

Kenaikan di kedua pasar itu mengangkat indeks MSCI Emerging Markets Asia ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir.

Di Singapura, indeks FTSE Straits Times juga mencetak rekor tertinggi baru. Indeks tersebut melanjutkan kenaikan setelah menguat 1,2% pada perdagangan sebelumnya dan mencatat penguatan selama enam sesi berturut-turut.

Baca Juga: Dolar AS Menguat, Ada Potensi Suku Bunga Fed Akan Naik Lagi di Akhir 2026

Sementara itu, indeks saham Filipina naik 0,8%, sedangkan pasar saham Malaysia dan Thailand bergerak relatif terbatas.

Berbeda dengan pasar regional, aset keuangan Indonesia masih berada di bawah tekanan. Selain IHSG yang sempat melemah hingga 2,4%, nilai tukar rupiah juga terdepresiasi ke level Rp 17.865 per dolar Amerika Serikat (AS) menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Analis Saxo Markets Charu Chanana menilai, BI memiliki kecenderungan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, bahkan berpotensi mengarah pada pengetatan lebih lanjut jika pelemahan rupiah berlanjut.

Selain itu, investor juga mencermati hasil MSCI Global Market Accessibility Review yang dinilai berpotensi memengaruhi arus likuiditas di pasar keuangan Indonesia.

Baca Juga: Yield SBN Turun, Investor Menanti Keputusan Suku Bunga BI

Sepanjang tahun ini, rupiah beberapa kali mencatat level terlemah terhadap dolar AS. Tekanan tersebut dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah, serta volatilitas harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia.

Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan keputusan kebijakan moneter Taiwan. Berdasarkan jajak pendapat Reuters, bank sentral Taiwan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News