KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah hampir 5% ke level 5.355,33 pada perdagangan Senin (8/6/2026) pukul 15.30 WIB. Secara tahun berjalan, IHSG sudah alami penurunan berkisar 37%. Pergerakan indeks pun diperkirakan masih akan turun dalam beberapa waktu ke depan. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan dalam pendekatan teknikal dan
historical valuation band, IHSG yang sudah terkoreksi sekitar 37% secara tahun berjalan pada dasarnya sudah memasuki area
deep correction.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Anjlok ke Rp 18.188 Per Dolar AS Hari Ini (8/6), Rekor Terburuk Lagi "Secara statistik, area yang mulai dianggap
fair stress bottom berada di kisaran 5.200–5.400, dengan asumsi normalisasi valuasi ke level mean minus 1–2 standar deviasi," kata Elandry kepada Kontan, Senin (8/6/2026). Namun dalam kondisi
risk appetite global yang masih lemah dan arus keluar asing yang berlanjut, IHSG masih berpotensi melakukan
overshoot menuju area 5.000–5.200 sebelum benar-benar membentuk stabilisasi, sehingga pola yang terbentuk lebih ke
bottoming phase daripada titik dasar tunggal. Dalam jangka pendek, IHSG saat ini memiliki support terdekat di area 5.300, dengan support berikutnya di 5.200 yang menjadi area krusial untuk menjaga struktur teknikal. Jika tekanan berlanjut, area 5.000 menjadi support kuat berikutnya. Sementara itu, resistance terdekat berada di 5.500–5.650, dan resistance psikologis yang lebih kuat di level 6.000. Struktur pergerakan masih menunjukkan pola
lower high lower low, sehingga setiap
rebound cenderung bersifat teknikal dan belum mengindikasikan pembalikan tren secara penuh.
IHSG Tanpa Asing
Elandry juga mengasumsikan apabila asing benar-benar keluar total dan IHSG hanya ditopang domestik ditambah emiten konglomerat, IPO
multibagger,
rights issue bagus, dan
yield dividen yang menarik,
market cenderung bukan uptrend kuat tapi lebih ke range bound dengan kenaikan yang episodik. "Domestik masih jadi penyangga lewat mutual fund, pension fund, retail, dan corporate action, Namun, absennya arus masuk dana asing membuat pasar kehilangan liquidity premium dan katalis untuk ekspansi valuasi, sehingga ruang bagi re-rating menjadi lebih terbatas," ujar Elandry. Secara realistis IHSG masih bisa naik di area sekitar 5.200–5.800. Jika ada IPO bagus, aksi konglomerat, dan
risk appetite domestik kuat, bisa ke 5.800–6.400, tapi untuk bertahan di atas 6.500 biasanya tetap butuh
foreign inflow. "Intinya tanpa asing IHSG masih bisa naik, tapi lebih pelan, selektif, dan digerakkan oleh
stock picking serta
event driven flow," tambah Elandry. Dari sisi sentimen global, tekanan utama IHSG datang dari ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, penguatan dolar Amerika Serikat, serta pergeseran risk appetite yang membuat arus dana keluar dari
emerging markets, termasuk Indonesia. "Secara regional, terdapat efek contagion di mana pelemahan pasar Asia turut menekan Indonesia meski tidak sepenuhnya bersifat idiosinkratik," jelasnya.
Baca Juga: DXY Diproyeksi Tetap Perkasa pada Semester II-2026, Rupiah Berisiko ke Rp 18.300 Dari sisi domestik, kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal, persepsi belanja pemerintah yang besar, serta potensi perlambatan katalis pertumbuhan laba turut menekan market sentiment. Sementara itu, arus keluar asing yang konsisten membuat likuiditas menurun dan meningkatkan volatilitas. "Isu
sell Indonesia dan potensi penurunan alokasi dari beberapa institusi global, termasuk dana pensiun, pada dasarnya lebih mencerminkan global
asset allocation shift, namun tetap memperkuat tekanan jangka pendek di pasar domestik," tambahnya.
Elandry juga menambahkan, dalam kondisi saat ini, pasar lebih banyak digerakkan oleh faktor liquidity dan volatility dibandingkan fundamental jangka pendek. Dus, investor disarankan untuk tidak bereaksi emosional terhadap tekanan harga dan lebih fokus pada strategi bertahap seperti
gradual accumulation di saham-saham berfundamental kuat dan likuid, terutama sektor defensif dan big caps berkualitas. Untuk
trading jangka pendek, disiplin terhadap area
support dan
resistance menjadi penting karena pasar masih berada dalam fase
range-bound dengan bias pelemahan. Kunci utama yang perlu dipantau adalah potensi pembalikan
foreign flow, karena tanpa itu, setiap
rebound masih berpotensi tertahan oleh tekanan jual lanjutan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News