IHSG Jatuh 8% Picu Trading Halt, Peralihan ke SBN Dinilai Tak Masif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt di Sistem perdagangan Jakarta Automated Trading System (JATS) Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG merosot hingga 8% atau turun 718,441 poin ke level 8.261,78 pada pukul 13.42 WIB. 

Kondisi ini dinilai membuka peluang terjadinya pergeseran minat investor ke instrumen yang lebih stabil, seperti Surat Berharga Negara (SBN). 

Meski demikian, potensi flight to quality ke pasar SBN dinilai belum akan terjadi secara masif.


Baca Juga: Imbas Trading Halt, Perdagangan Dibekukan 30 Menit! Cek Jam Pembukaan IHSG

Plt Direktur Surat Utang Negara (SUN) Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani menilai tekanan yang terjadi di pasar saham saat ini lebih bersifat sentimen dan belum mencerminkan pelemahan fundamental. 

Menurutnya, reaksi pasar merupakan hal yang wajar dalam dinamika perdagangan.

“Kejadian hari ini kan lebih ke sentimen, bukan sesuatu yang fundamental. Market merespons suatu informasi, itu hal yang sangat wajar. Pasar memang pasti naik-turun, dan justru dari volatilitas itu akan ada investor yang melihat peluang, termasuk membeli di level bawah,” ujar Novi di Aroem Resto Jakarta Pusat, Rabu (28/1/2026).

Terkait potensi peralihan dana ke instrumen yang lebih aman, Novi menyebut kemungkinan flight to quality ke SBN tetap ada, namun skalanya diperkirakan terbatas. 

Ia menilai peluang pemulihan IHSG masih terbuka seiring dengan prospek pertumbuhan ekonomi ke depan.

Baca Juga: IHSG Anjlok 8%, BEI Lakukan Trading Halt

“Apakah nanti akan ada flight to quality ke SBN? Mungkin ada, tapi saya rasa tidak akan masif. Karena potensi IHSG untuk naik kembali juga masih ada, seiring dengan peluang pertumbuhan ke depan,” jelasnya.

Meski demikian, Novi mengatakan sebagian investor bisa mulai mengalihkan asetnya, terutama sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio. 

Kondisi pasar yang bergejolak seperti saat ini dapat mendorong investor untuk menyeimbangkan kembali investasinya antara aset berisiko dan instrumen yang lebih stabil.

Selanjutnya: Sun Life Optimistis Prospek Asuransi Kesehatan Masih Menjanjikan pada 2026

Menarik Dibaca: IHSG Anjlok, Ini Saham-saham Paling Banyak Dijual Asing di Sesi I (28/1)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News