KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) kembali tertekan pada perdagangan Selasa (22/9/2026). IHSG anjlok 1,69% atau 107,93 poin ke level 6.277,04, sekaligus kembali menembus ke bawah level psikologis 6.300. Tekanan jual terjadi hampir di seluruh pasar dengan 533 saham berakhir di zona merah. Sektor energi dan industrial mencatat pelemahan terbesar, sementara sektor siklikal menjadi satu-satunya sektor yang menguat. Di tengah kondisi pasar yang masih volatil, investor dapat mencermati sejumlah saham untuk perdagangan harian.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda memasukkan BIPI, RMKE, dan CUAN dalam radar perdagangan, sedangkan LABA perlu dicermati karena masih menghadapi tekanan harga.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Uji Level 6.350-6.400 pada Rabu (16/9), Cermati Sentimennya "Investor masih perlu mencermati respons pasar terhadap hasil RDG BI sebelum menentukan arah transaksi," ujar Reza, Selasa (22/9/2026). Menurut Reza, pelemahan IHSG dipicu kombinasi sentimen
risk-off global, tekanan rupiah, aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, serta sikap investor yang menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu (23/9). Konsensus pasar masih memperkirakan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Namun, perhatian investor tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga, melainkan juga sinyal kebijakan BI dalam merespons tekanan rupiah dan kondisi pasar global. Jika BI mempertahankan BI Rate sekaligus memberikan sinyal yang mendukung stabilisasi rupiah, peluang
technical rebound IHSG masih terbuka. Sebaliknya, tekanan pasar berpotensi berlanjut apabila rupiah, sentimen global dan harga minyak kembali memburuk. Tekanan terhadap IHSG juga tercermin secara teknikal. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mencatat IHSG telah ditutup di bawah
moving average (MA) 60 dan MA100.
Baca Juga: IHSG Bangkit, Ini 10 Saham Blue Chip dengan PER Terendah untuk Pilihan Investasi Kondisi ini membuka ruang bagi indeks untuk menguji level psikologis 6.200. "Secara teknikal, IHSG diperkirakan menguji 6.200 dan terdapat gap di level 6.186," kata Alrich. Reza memperkirakan IHSG masih bergerak volatil dengan kecenderungan
wait and see pada perdagangan berikutnya. Area 6.250-6.200 menjadi support penting, sementara
resistance berada di 6.370-6.410. Dari eksternal, pasar masih dibayangi sikap
hawkish The Fed, tingginya
yield US Treasury serta ketidakpastian hubungan AS-Iran. Harga minyak kembali menjadi perhatian setelah sempat turun akibat harapan adanya upaya diplomatik untuk meredakan konflik AS-Iran. Namun, belum adanya kesepakatan konkret dan risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz masih membuat harga minyak bergerak volatil. Sementara itu, rupiah kembali tertekan dan ditutup melemah 0,14% ke Rp17.850 per dolar AS pada Selasa (22/9).
Baca Juga: The Fed Mengerek Bunga Acuan dan Rupiah Tembus Rp17.700, Ini Risiko bagi IHSG Dengan kondisi tersebut, arah pasar dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi hasil RDG BI, terutama keputusan BI Rate dan panduan kebijakan selanjutnya. Investor juga perlu memperhatikan pergerakan support IHSG sebelum meningkatkan posisi di saham-saham yang masuk radar perdagangan harian. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News