IHSG Kian Tertekan, Strategi Investasi Defensif & Pilihan Produk Ini Lebih Disarankan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Indonesia masih berada dalam kondisi bergejolak meskipun sempat pulih dari titik terendahnya. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat volatilitas yang tinggi di tengah ketidakpastian global maupun domestik yang masih berlanjut.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Novani Karina Saputri dalam riset 26 Juni 2026 menyebutkan meski ada tanda-tanda stabilisasi dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, tekanan terhadap pasar masih cukup signifikan.

"IHSG sebelumnya sempat terkoreksi sekitar 32% secara year-to-date dan 4% month-to-date hingga 24 Juni. Ini menunjukkan besarnya volatilitas yang terjadi di pasar dalam beberapa waktu terakhir," ujar Novani dalam risetnya.


Baca Juga: MTEL Fokus Perluas Infrastruktur Digital di Tengah Tingginya Permintaan Data

Per Jumat (26/6/2026), IHSG kembali melemah 1,72% di 5.896,13. Sementara dalam sepekan melemah 4,55% dan turun 31,81% di sepanjang tahun ini.

Selain tekanan di pasar saham, nilai tukar rupiah juga masih berada di bawah tekanan dengan bergerak di atas level Rp 17.900 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan bahwa risiko eksternal serta sikap hati-hati investor asing terhadap pasar negara berkembang belum sepenuhnya mereda.

Menurut Novani, pergerakan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen investor dan tekanan eksternal, dibandingkan dengan pelemahan fundamental ekonomi domestik.

"Ketidakpastian arah suku bunga global, arus modal asing, serta perkembangan geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi perilaku investor dan meningkatkan volatilitas pasar," katanya.

Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid. Stabilitas tersebut ditopang oleh permintaan domestik yang terjaga serta kebijakan ekonomi yang tetap prudent, sehingga memberikan landasan positif bagi prospek jangka menengah hingga panjang.

Dalam kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, Novani menilai strategi investasi yang lebih defensif menjadi semakin relevan. Investor disarankan untuk menjaga keseimbangan portofolio antara aset berisiko seperti saham dan instrumen yang lebih aman.

Untuk pasar obligasi, ia merekomendasikan fokus pada portofolio dengan durasi pendek hingga menengah serta kualitas penerbit yang tinggi guna mengurangi sensitivitas terhadap perubahan suku bunga.

Baca Juga: Wall Street Bersiap Catat Koreksi Mingguan Tajam Jumat (26/6), Saham Chip Tertekan

"Dengan pendekatan tersebut, investor dapat mengurangi risiko fluktuasi suku bunga sekaligus menjaga ketahanan portofolio di tengah volatilitas yang tinggi," ujarnya.

Selain itu, Novani juga menekankan pentingnya menjaga likuiditas sebagai prioritas strategi investasi saat ini. Reksa dana pasar uang dinilai dapat menjadi alternatif efektif untuk pengelolaan likuiditas dan diversifikasi portofolio.

Instrumen tersebut memiliki tingkat risiko yang relatif rendah, likuiditas tinggi, serta potensi imbal hasil yang kompetitif dibandingkan deposito bank konvensional. Hal ini dinilai dapat membantu investor menjaga modal sekaligus memberikan fleksibilitas untuk kembali masuk ke aset berisiko ketika kondisi pasar membaik.

"Reksadana pasar uang dapat menjadi alat penting untuk menjaga likuiditas sambil menunggu visibilitas pasar yang lebih jelas dan peluang investasi yang lebih menarik," kata Novani.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: