KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidatif dalam jangka pendek, di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang belum kondusif. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sekaligus praktisi pasar modal Budi Frensidy menilai, ruang penguatan IHSG saat ini masih terbatas. “Dalam jangka pendek, IHSG kemungkinan masih bergerak volatil dan cenderung konsolidatif, dengan peluang penguatan terbatas,” ujar Budi kepada Kontan, Minggu (12/7/2026).
Pada Jumat (10/7/2026), IHSG ditutup naik 0,20% atau menguat 0,53% secara mingguan ke level 5.924,36. Namun, penguatan tersebut masih dibayangi aksi jual bersih investor asing sekitar Rp421,5 miliar. Artinya, perbaikan indeks belum sepenuhnya didukung oleh kembalinya aliran dana asing ke pasar domestik.
Baca Juga: Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Perdagangan Senin (13/7) Menurut Budi, eskalasi geopolitik memengaruhi IHSG melalui sejumlah kanal, seperti kenaikan harga minyak, penguatan dolar Amerika Serikat, serta meningkatnya sikap risk-off di pasar keuangan global. Ia mengingatkan, meskipun Indonesia merupakan eksportir komoditas, kenaikan harga minyak yang terlalu tinggi justru dapat menekan nilai tukar rupiah, meningkatkan inflasi, serta membebani kondisi fiskal dan margin perusahaan pengguna energi. Di sisi lain, kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat atau The Fed yang masih ketat turut menjadi tekanan tambahan. “Imbal hasil US Treasury 10 tahun yang berada sekitar 4,6% memperbesar risiko dana asing bertahan di aset dolar atau keluar dari pasar negara berkembang,” jelasnya. Dengan demikian, kombinasi harga minyak yang tinggi dan sikap The Fed yang cenderung hawkish menjadi risiko utama bagi aliran dana asing dan volatilitas IHSG.
Baca Juga: Simak Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham untuk Senin (13/7) Dari sisi domestik, penopang IHSG saat ini berasal dari valuasi saham yang mulai menarik, kinerja sejumlah emiten yang masih solid, serta kenaikan harga komoditas yang menguntungkan sektor energi dan pertambangan. Pada perdagangan terakhir, sektor energi bahkan menjadi sektor dengan kenaikan terbesar. Namun demikian, sejumlah faktor masih menjadi pemberat, seperti aksi jual bersih asing yang berlanjut, pelemahan rupiah, tingginya imbal hasil obligasi AS, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap transparansi dan tata kelola pasar. “Likuiditas yang belum cukup dalam membuat tekanan jual pada beberapa saham besar dapat memberikan dampak yang tidak proporsional terhadap indeks,” imbuh Budi. Dalam kondisi ini, sektor yang relatif defensif antara lain barang konsumsi primer, kesehatan, dan telekomunikasi, terutama perusahaan dengan arus kas kuat dan utang rendah.
Baca Juga: IHSG Diperkirakan Masih Bergerak Volatil, Saham Apa yang Jadi Rekomendasi Analis? Sementara itu, sektor energi, emas, dan komoditas lain berpeluang mengungguli pasar apabila ketegangan geopolitik dan harga komoditas bertahan tinggi. Meski demikian, saham komoditas dinilai tidak sepenuhnya defensif karena sangat bergantung pada pergerakan harga global. Adapun saham bank besar dinilai mulai menarik secara valuasi, meski pemulihannya masih menunggu stabilisasi rupiah dan meredanya aksi jual asing. Dari sisi strategi, investor disarankan untuk tidak mengejar kenaikan harga dalam jangka pendek. Investor sebaiknya melakukan pembelian secara bertahap, menjaga sebagian dana tunai, serta memprioritaskan emiten dengan fundamental kuat.
“Dalam situasi seperti sekarang, pemilihan saham lebih penting daripada sekadar menebak arah IHSG,” tegas Budi. Selain itu, diversifikasi portofolio juga menjadi kunci. Investor jangka panjang dapat memanfaatkan koreksi untuk akumulasi, sementara investor jangka pendek perlu disiplin dalam menerapkan batas kerugian dan menghindari saham dengan likuiditas rendah.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,83% ke 5.924, Cek Saham yang Banyak Diburu Asing Sepekan Terakhir Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News