IHSG Masih Berpotensi Tertekan pada Selasa (3/2), Cek Rekomendasi Saham Berikut



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 4,88% ke level 7.922,73 pada akhir perdagangan Senin (2/2/2026). Tekanan IHSG diperkirakan masih akan berlanjut pada Selasa (3/2/2026).

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai pelemahan ini lebih mencerminkan sikap wait and see investor ketimbang meningkatnya pesimisme terhadap prospek pasar.

“Tekanan IHSG lebih dipengaruhi pesan pasar, khususnya dari investor asing, yang masih menantikan tindak lanjut resmi dari pertemuan BEI dengan MSCI terkait transparansi pasar. Selain itu, masa transisi di regulator juga membuat pelaku pasar menunggu langkah konkret yang lebih meyakinkan,” ujar Reza kepada Kontan, Senin (2/2/2026).


Dari sisi domestik, sentimen utama masih berasal dari kebijakan MSCI terkait isu free float dan pembekuan rebalancing pada Februari yang memicu penyesuaian portofolio investor, terutama asing. Ketidakpastian juga meningkat seiring perubahan jajaran pimpinan di regulator dan otoritas pasar modal.

Baca Juga: Wall Street Naik, S&P 500 Mendekati Rekor Didukung Lonjakan Kinerja Produsen Chip

Sementara dari global, tekanan datang dari pelemahan harga sejumlah komoditas, ketidakpastian geopolitik, serta dinamika kebijakan Amerika Serikat, termasuk pernyataan Presiden Donald Trump terkait arah kebijakan moneter dan isu suksesi pimpinan The Fed yang meningkatkan volatilitas pasar.

Secara teknikal, IHSG masih bergerak volatil dengan kecenderungan melemah terbatas. Reza menyebut indikator MACD berada di zona negatif dan RSI kembali masuk area oversold.

“Untuk perdagangan Selasa, IHSG diperkirakan bergerak mixed cenderung tertekan dengan support di 7.785 dan resistance di 8.232. Jika tekanan berlanjut dan hasil pertemuan dengan MSCI belum menunjukkan kejelasan, IHSG berpotensi menguji area psikologis 7.500-7.600,” jelasnya.

Ia menambahkan, komitmen pemerintah dalam membenahi keterbukaan informasi pasar, khususnya terkait formula free float dan keterbukaan ultimate beneficial owner (UBO), berpotensi menjadi faktor peredam tekanan ke depan.

Senada, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih fluktuatif, dengan peluang tekanan lanjutan jika gagal bertahan di area support.

“Level support penting berada di kisaran 7.600-7.700, sementara resistance terdekat di 8.170-8.400. Selama IHSG belum mampu kembali menembus resistance tersebut, pasar masih rentan terhadap koreksi lanjutan,” katanya.

Baca Juga: Rights Issue INET Oversubscribed 52 Kali, Raup Dana Rp 3,2 Triliun

Ia memperkirakan skenario terburuk IHSG berpotensi mengarah ke area 7.250–7.500 apabila tekanan asing berlanjut dan ketidakpastian kebijakan belum mereda.

Untuk strategi jangka pendek, Audi melihat sektor defensif dan consumer relatif lebih tahan terhadap tekanan pasar. Saham yang dapat dicermati antara lain INDF dengan target resistance di kisaran Rp7.275-Rp7.450 serta PTBA dengan target di area Rp2.700-Rp2.800.

Sementara itu, Reza menilai kebijakan peningkatan likuiditas pasar, seperti rencana penguatan investasi institusional domestik dan dorongan pada saham berlikuiditas besar, berpotensi menguntungkan saham-saham blue chip dan defensif.

“Saham pilihan secara teknikal antara lain INDF dengan support Rp6.700 dan resistance Rp 7.400, serta AADI dengan support Rp 7.750 dan resistance Rp8.550,” tutupnya.

Selanjutnya: Surplus Neraca Perdagangan Bakal Susut

Menarik Dibaca: Sentimen Estafet Kepemimpinan BEI & OJK, IPOT Rekomendasi Tiga Saham Uptrend

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: