KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) diproyeksi masih mendapat tekanan pada perdagangan Senin (19/10/2026). Sekedar mengingatkan, IHSG ditutup anjlok 11,57% atau turun 678,67 poin ke level 5.185,10 pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Pelemahan tersebut terjadi setelah IHSG sempat memicu
trading halt pada pembukaan perdagangan di akhir pekan lalu. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, tekanan utama IHSG berasal dari pengumuman MSCI yang mengonsultasikan perubahan status Indonesia dari
emerging market menjadi
standalone market.
Sentimen tersebut diperberat oleh kenaikan Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat (AS) sebesar 1,3% MoM pada September, serta ketidakpastian geopolitik dan pelemahan rupiah.
Baca Juga: Ancaman Evaluasi MSCI Membayangi, Simak Prospek dan Proyeksi IHSG Hingga Akhir 2026 Meski demikian, Reza mengingatkan bahwa status Indonesia belum resmi diturunkan. Keputusan MSCI ditargetkan paling lambat Juni 2027. Secara teknikal, Reza menyebut IHSG masih berada dalam tekanan bearish setelah turun lebih dari 11% dalam sehari. Untuk perdagangan Senin (19/10/2026), volatilitas IHSG masih berpotensi tinggi, meskipun peluang
technical rebound tetap terbuka. Reza mencermati, level support psikologis di 5.000, kemudian 4.800 jika tekanan jual berlanjut. Sementara itu, resistance awal berada di kisaran 5.200-5.300. Menurut Reza, level tersebut menjadi acuan skenario dan belum merupakan level teknikal yang sudah terkonfirmasi. Selama IHSG belum mampu kembali ke atas resistance disertai meredanya tekanan jual, pergerakan indeks masih rentan melemah. “Untuk trading jangka pendek, kami menyarankan menunggu tekanan jual mereda sebelum masuk pasar. Namun, koreksi ini juga bisa menjadi opportunity untuk mencermati saham dengan fundamental bagus dan
dividend yield tinggi. Tentunya, tidak langsung
all in, tetapi masuk bertahap setelah ada tanda-tanda pasar mulai stabil,” ujar Reza kepada Kontan, Sabtu (17/10/2026). Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menjelaskan, IHSG terkoreksi agresif sebesar 14,91% dalam sepekan terakhir, disertai tekanan jual yang membesar. Herditya memperkirakan, tekanan tersebut dipengaruhi oleh aksi
panic selling investor setelah MSCI mengeluarkan proposal perubahan status Indonesia dari
emerging market menjadi
standalone market. Menurutnya, proposal tersebut masih dalam tahap konsultasi dengan keputusan final pada Juni 2027 dan dapat dibatalkan apabila terdapat perbaikan yang signifikan.
Selain itu, rilis inflasi tahunan AS sebesar 3,7%, masih jauh dari target The Fed turut menjadi perhatian pasar. Herditya memperkirakan, The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (
higher for longer), dengan satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026.
Di sisi lain, PPI AS juga naik 1,3% MoM. Herditya menambahkan, konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar, terutama eskalasi antara Houthi dan Arab. Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak mentah dan inflasi energi global. “Untuk saham dapat cermati PT Astra International Tbk (
ASII) dengan rentang harga Rp 4.320-Rp 4.420, PT Vale Indonesia Tbk (
INCO) di kisaran Rp 3.840-Rp 4.190, serta PT Telkom Indonesia Tbk (
TLKM) pada kisaran Rp 1.980-Rp 2.100,” tutur Herditya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News