KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpotensi bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan ini. Tekanan jual yang membayangi pasar saham domestik, baik dari sentimen global maupun dalam negeri, membuat investor perlu mencermati sejumlah level teknikal dan perkembangan sentimen ekonomi. Pada perdagangan Jumat (30/10/2026), IHSG ditutup melemah 0,80% ke level 5.057,05. Sepanjang pekan perdagangan 26–30 Oktober 2026, indeks terkoreksi 7,03% dari posisi penutupan pekan sebelumnya di 5.439,25. IHSG bahkan sempat menyentuh level 4.979 secara intraday sebelum kembali ditutup di atas level psikologis 5.000. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, mengatakan tekanan pasar tercermin dari aksi jual investor asing yang membukukan net sell sekitar Rp 4,1 triliun sepanjang pekan lalu.
Baca Juga: Laba Pakuwon Jati (PWON) Turun Kala Pendapatan Naik per Kuartal III 2026 Saham dengan net foreign sell terbesar adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 1,19 triliun, diikuti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 1,12 triliun dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 504,9 miliar. Sementara itu, investor asing masih membukukan pembelian bersih pada BBCA sebesar Rp 370 miliar, ASII Rp 133,7 miliar, dan BUMI Rp 97 miliar. Di sisi lain, aliran transaksi smart money dalam periode lima hari perdagangan justru menunjukkan akumulasi terbesar pada saham BBRI, BMRI, dan ASII. Akumulasi ini mengindikasikan masih adanya minat beli pada sejumlah saham berkapitalisasi besar di tengah koreksi pasar. Tekanan juga terlihat dari aktivitas perdagangan. Rata-rata nilai transaksi harian turun 29,49% menjadi Rp 14,34 triliun dari Rp 20,34 triliun pada pekan sebelumnya. Adapun rata-rata frekuensi transaksi harian terkoreksi 20,99% menjadi 1,54 juta kali transaksi. Dari eksternal, pasar saham global turut dibayangi kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi dan besarnya belanja investasi perusahaan untuk pengembangan kecerdasan buatan atau
artificial intelligence (AI). Pada Jumat (30/10/2026), Dow Jones turun 1,09%, S&P 500 melemah 1,82%, sedangkan Nasdaq terkoreksi 2,86%. Sentimen lainnya datang dari kondisi ekonomi Amerika Serikat. Ekonomi AS tumbuh 3,4% pada kuartal III-2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2,2% pada kuartal sebelumnya dan ekspektasi pasar sebesar 3,2%. Namun, inflasi PCE September meningkat menjadi 3,6% secara tahunan, sedangkan PCE inti mencapai 3,1%. Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang solid dan inflasi yang persisten tersebut memperkuat ekspektasi suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama. The Fed pun mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00%. "Sejalan dengan kondisi tersebut, The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00%, sementara BOJ menahan suku bunga di 1,25% dan ECB di 2,65%. Kondisi ini membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter global dan membuat pasar keuangan tetap sensitif terhadap perkembangan inflasi serta arah kebijakan bank sentral," ujar Brigita dalam keterangan resmi, Senin (2/10/2026).
Baca Juga: Bisnis Limbah TOBA Tumbuh 41%, Investasi Rp 7,77 Triliun Menanti Dari dalam negeri, pelemahan rupiah sebesar 0,06% ke Rp 18.147 per dollar AS pada Jumat (30/10/2026) serta kenaikan yield surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun hingga kisaran 7,66% turut menjadi perhatian pasar. Sentimen domestik juga dipengaruhi kekhawatiran terhadap risiko penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market dalam evaluasi MSCI. Meski demikian, terdapat sejumlah sentimen penyeimbang, antara lain keputusan FTSE Russell mempertahankan klasifikasi Indonesia sebagai
Secondary Emerging Market dan proyeksi kenaikan pertumbuhan ekonomi potensial Indonesia oleh Fitch Ratings menjadi 4,9% pada 2027–2028. Dari sisi teknikal, Brigita memperkirakan IHSG berpeluang bergerak konsolidatif pada kisaran 5.000–5.200 sepanjang pekan ini apabila mampu mempertahankan penutupan di atas level psikologis 5.000. Namun, jika indeks kembali ditutup di bawah level tersebut, tekanan jual berpotensi berlanjut dan membawa IHSG menguji area 4.900–5.000. Dalam skenario yang lebih pesimistis, IHSG berpotensi terkoreksi menuju area 4.763–4.845. Adapun level support indeks berada di kisaran 4.915–5.012, sedangkan resistance berada di area 5.328–5.460. "Selama mampu bertahan di atas 5.000, IHSG berpeluang memasuki fase konsolidasi. Sebaliknya, penutupan di bawah level tersebut akan meningkatkan risiko pelemahan menuju area 4.900 dan membuka ruang koreksi lebih dalam," imbuhnya. Investor juga akan mencermati sejumlah agenda ekonomi domestik pekan ini, seperti rilis data Manufacturing PMI, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, cadangan devisa, dan indeks harga rumah. Dari eksternal, perhatian pasar tertuju pada pemilu paruh waktu Amerika Serikat atau
midterm election pada 3 November. Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, Brigita merekomendasikan sejumlah saham untuk strategi trading pekan ini, yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Untuk ASII, rekomendasi beli diberikan dengan level masuk Rp 4.800, target harga Rp 5.275, dan
stop loss Rp 4.560. Secara teknikal, saham ASII dinilai berpotensi melanjutkan penguatan setelah bergerak di atas MA5 hingga MA50. Indikator trade flow juga menunjukkan akumulasi oleh
smart money dan investor asing. Selanjutnya, ISAT direkomendasikan beli dengan level masuk Rp 1.530, target harga Rp 1.705, dan
stop loss Rp 1.470. Rekomendasi tersebut didasarkan pada pola
falling wedge yang terbentuk di area support kuat serta kemunculan
candlestick inverted hammer yang membuka peluang pembalikan arah.
Sementara itu, KLBF direkomendasikan beli dengan level masuk Rp 730, target harga Rp 800, dan
stop loss Rp 700. Secara teknikal, saham KLBF berpotensi melanjutkan penguatan jangka pendek setelah bergerak di atas MA5. Indikator MACD juga membentuk
golden cross dan mulai bergerak di area positif. Selain itu, KLBF mencatatkan net foreign buy kumulatif sebesar Rp 28,4 miliar per 30 Oktober 2026. Selain saham, Brigita turut merekomendasikan Power Fund Series XGLD atau Premier ETF Gold Sharia Indonesia sebagai alternatif investasi untuk memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen yang diperdagangkan di bursa.
Baca Juga: Menanti Data Ekonomi AS, Indeks Dolar Bergerak Stabil di Kisaran 102 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News