KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemungkinan masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Namun, di sisi lain, peluang IHSG untuk kembali ke jalur yang positif juga tetap terbuka. Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, ada beberapa faktor yang paling berpotensi menekan IHSG. Pertama adalah volatilitas harga harga minyak dunia seiring ketidakpastian geopolitik Timur Tengah yang cukup berbahaya bagi Indonesia, karena dapat memperlebar defisit transaksi berjalan, meningkatkan subsidi energi, dan mendorong inflasi. Kedua, ekspektasi suku bunga global yang kembali tinggi setelah pasar mulai memperkirakan The Fed tidak jadi memangkas suku bunga tahun ini. "Artinya, dana asing akan tetap memilih bertahan di aset dolar AS dibanding masuk ke
emerging market seperti Indonesia," ujar dia, Minggu (24/5) malam.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Senin (25/5) Pagi, Ada Isyarat Kesepakatan AS-Iran Makin Dekat Ketiga, pelemahan kurs rupiah yang terlalu cepat juga membuat investor asing semakin agresif melakukan
net sell karena return saham Indonesia tergerus depresiasi mata uang. Keempat, tekanan domestik seperti perlambatan daya beli masyarakat, ketidakpastian regulasi, serta kekhawatiran terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi juga membuat investor memilih
wait and see. Melihat kombinasi tekanan global dan domestik tersebut, Hendra memperkirakan IHSG masih berpotensi mengalami koreksi lanjutan terlebih dahulu sebelum mampu membangun rebound yang lebih sehat. Menurut dia, area psikologis 6.000 menjadi level yang sangat penting untuk dicermati pasar dalam jangka pendek. Jika tekanan terhadap rupiah masih berlanjut dan arus dana asing (foreign flow) belum kembali stabil, maka bukan tidak mungkin IHSG kembali menguji area tersebut sebagai bentuk pencarian titik keseimbangan baru pasar. Terlebih lagi, secara historis fase p
anic selling biasanya baru mereda ketika valuasi saham-saham big caps sudah benar-benar memasuki area diskon ekstrem dan mulai memancing akumulasi investor institusi maupun dana asing jangka panjang. "Dengan kata lain, potensi koreksi menuju 6.000 masih cukup terbuka sebelum IHSG kembali menemukan momentum penguatan yang lebih solid," kata dia.
Baca Juga: IHSG Ambruk 8,35% ke 6.162, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing Sepekan Terakhir Meski begitu, peningkatan jumlah investor ritel domestik sebenarnya dapat menjadi kekuatan besar untuk menopang IHSG apabila diarahkan dengan benar. Permasalahan saat ini adalah sebagian besar investor ritel masih bergerak berdasarkan emosi dan momentum jangka pendek, sehingga pasar mudah mengalami FOMO ketika naik dan
panic selling ketika turun. Untuk mengubah investor ritel menjadi fondasi penguatan pasar, diperlukan edukasi yang lebih agresif mengenai investasi jangka panjang, manajemen risiko, dan pentingnya membeli saham berdasarkan fundamental, bukan sekadar rumor atau gorengan media sosial. Lebih lanjut, Hendra menilai secara valuasi sebenarnya banyak saham big caps sudah sangat murah dan mulai memasuki area undervalue. Namun, untuk menyatakan bahwa IHSG sudah benar-benar bottom tampaknya masih terlalu dini. Secara teknikal, area level di kisaran 6.000–6.100 memang menjadi support psikologis yang cukup kuat, karena sudah mulai muncul aksi bargain hunting. Namun, selama nilai tukar rupiah masih melemah tajam, foreign flow belum kembali masuk, dan ketidakpastian global masih tinggi, mama risiko penurunan lanjutan tetap terbuka. Alhasil, saat ini pasar lebih cocok disebut sebagai fase pembentukan bottom atau bottoming process, bukan langsung fase bull market baru. "Biasanya fase seperti ini ditandai volatilitas tinggi, indeks naik turun tajam, namun saham-saham tertentu mulai diam-diam dikoleksi pelaku besar," tutur Hendra. Terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menilai momen yang tepat bagi investor untuk mulai masuk pasar. Pertama adalah stabilisasi rupiah. Jika rupiah mulai kembali menguat dan stabil di bawah Rp 17.000 per dolar AS, hal itu akan menjadi sinyal positif bagi arus dana asing. Kedua, foreign flow mulai berbalik menjadi net buy secara konsisten, terutama di saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI. Ketiga, yield obligasi pemerintah mulai turun yang menandakan tekanan risiko mulai mereda. Keempat, IHSG mampu kembali bertahan di atas area resistance penting dengan volume transaksi yang sehat. Hal yang paling penting adalah perbaikan sentimen terhadap kebijakan pemerintah, mengingat pasar modal pada dasarnya menyukai kepastian. Ketika arah kebijakan mulai jelas dan investor merasa pemerintah pro terhadap pertumbuhan ekonomi dan pasar modal, maka kepercayaan akan mulai pulih. Dalam kondisi pasar seperti sekarang, pendekatan stock picking jauh lebih penting dibanding sekadar memilih sektor. Ada beberapa saham yang mulai menarik dicermati karena valuasi sudah murah, namun fundamental masih cukup baik. Hendra mencontohkan pada saham IMPC yang memiliki kombinasi pertumbuhan laba dan valuasi murah yang menarik. Saham ini menarik untuk trading buy dengan target Rp 2.000 per saham apabila mampu menjaga momentum rebound.
Berikutnya, ada saham UNVR juga mulai menarik sebagai recovery play setelah lama tertidur. Perbaikan margin, efisiensi operasional, serta potensi pemulihan daya beli membuat saham ini mulai dilirik kembali. UNVR layak dicermati dengan target Rp 1.960 per saham dalam jangka pendek. Saham ULTJ juga menjadi pilihan defensif paling menarik karena fundamental sangat sehat, utang rendah, laba bertumbuh, dan dividend yield tinggi. Di tengah pasar yang volatil, saham seperti ULTJ biasanya menjadi tempat berlindung investor institusi dengan target Rp 1.800 per saham. Adapun saham SCMA menjadi pilihan spekulatif yang menarik karena transformasi digital mulai menunjukkan hasil dan valuasinya sudah sangat murah dibanding potensi pertumbuhan bisnis digitalnya. Target jangka pendek SCMA berada di area Rp 254 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News