IHSG Masih Tertekan, Cermati Sektor yang Berpotensi Bangkit di Semester II-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan mulai membuka ruang pemulihan pada semester II-2026, meski tekanan masih membayangi pasar sejak awal tahun.

Analis menilai, pelemahan yang terjadi sepanjang semester I justru menciptakan peluang akumulasi secara selektif.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan, meskipun seluruh sektor masih berada di zona merah hingga akhir semester I-2026, paruh kedua tahun ini berpotensi menghadirkan rotasi sektor seiring penyesuaian harga pasar.


“Semester II selalu membuka ruang untuk rotasi sektor dan pricing-in. Kami melihat potensi pemulihan yang sifatnya selektif,” ujar David kepada Kontan, Selasa (30/6/2026).

Baca Juga: Enam Emiten Bakal IPO di Semester II 2026, Mana yang Menarik?

Ia menambahkan, pelemahan terdalam yang terjadi pada sektor energi dan properti justru membuat valuasi sejumlah saham menjadi lebih menarik.

Beberapa emiten di sektor tersebut dinilai sudah berada di area jenuh jual atau oversold, sehingga berpotensi menjadi incaran investor jangka panjang.

Dari sisi sentimen, pergerakan indeks sektoral pada semester II-2026 masih akan dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.

Secara global, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia, terutama The Fed, serta dinamika harga komoditas akan menjadi penentu utama arus modal asing.

Sementara itu dari dalam negeri, stabilitas nilai tukar rupiah, rilis data pertumbuhan ekonomi, serta realisasi belanja pemerintah pada paruh kedua tahun ini akan menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan investor.

David memproyeksikan sektor finansial, khususnya perbankan, berpeluang memimpin pemulihan pasar.

Baca Juga: Paket Stimulus Rp 26,34 Triliun Meluncur pada Semester II-2026, Berikut Rinciannya

Sektor ini ditopang oleh fundamental yang solid, termasuk profitabilitas yang terjaga dan fungsi intermediasi yang tetap berjalan baik.

Selain itu, sektor konsumsi juga dinilai cukup tahan banting di tengah ketidakpastian, seiring daya beli domestik yang relatif stabil. Saham-saham konsumer berpotensi menjadi pilihan defensif bagi investor.

Di sisi lain, sektor energi dan properti masih perlu dicermati lebih hati-hati.

Volatilitas harga komoditas global membuat sektor energi masih dibayangi ketidakpastian, sementara sektor properti cenderung sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan daya beli masyarakat untuk pembelian aset bernilai besar.

Untuk pilihan saham, David merekomendasikan emiten berfundamental kuat dan likuiditas tinggi atau blue chips.

Di sektor perbankan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dinilai tetap menjadi motor penggerak indeks dengan prospek pertumbuhan kinerja yang stabil.

Sementara dari sektor konsumsi, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dapat menjadi opsi defensif untuk meredam volatilitas pasar.

Baca Juga: Perluas Segmen Usaha, Lorena (LRNA) Akan Luncurkan Layanan Kargo di Semester II-2026

Adapun dari sisi strategi, David menyarankan investor menerapkan pendekatan defensif-aktif. Investor dapat menempatkan sekitar 30% portofolio pada saham defensif berkapitalisasi besar yang rutin membagikan dividen.

Sementara itu, sekitar 70% dana sebaiknya disimpan dalam bentuk kas untuk menjaga fleksibilitas dalam memanfaatkan peluang beli saat pasar mengalami koreksi. Strategi ini dinilai relevan di tengah kondisi pasar yang masih volatil dan penuh ketidakpastian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News