IHSG Melambung 7%, Kiwoom Sekuritas: Ini Masih Relief Rally



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melambung tinggi pada perdagangan Selasa (9/6). IHSG parkir di level 5.746,65 atau melesat 7,57% dibanding penutupan perdagangan hari sebelumnya. 

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mencermati kenaikan IHSG terjadi ketika sebagian besar isu fundamental yang memicu tekanan terhadap Indonesia masih belum banyak berubah. 

Salah satunya nilai tukar rupiah yang masih tertahan di atas level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,72% menjadi Rp 18.058 per dolar AS pada Selasa (9/6). 


Baca Juga: Wacana Buyback Saham BUMN Jadi Penopang Penguatan IHSG, Begini Kata Analis

“Persepsi risiko terhadap Indonesia masih tinggi, belum ada lembaga pemeringkat internasional yang menaikkan outlook Indonesia saat ini bahkan baru saja ada penurunan outlook menjadi negatif,” jelas Liza, Selasa (9/6). 

Selain itu, kata Liza, berbagai kebijakan pemerintah yang bertujuan menarik devisa maupun mengembalikan kepercayaan investor sejauh ini belum sepenuhnya berhasil meredam kekhawatiran pasar.

“Karena itu, kenaikan IHSG pada 9 Juni 2026 lebih tepat dipandang sebagai relief rally yang memiliki katalis jelas, tetapi belum dapat dikategorikan sebagai bukti bahwa seluruh masalah telah terselesaikan,” katanya. 

Liza menjelaskan ada dua faktor utama yang menjadi pemicu. Pertama, munculnya sinyal dukungan terhadap pasar saham dari pemerintah dan BUMN dengan salah satu agenda pembahasan peluang buyback saham-saham BUMN. 

Kedua, langkah agresif Bank Indonesia (BI) yang secara mengejutkan mempercepat rapat dan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Ini merupakan keputusan yang mengejutkan pasar. 

Menurut Liza, reaksi pertama banyak pelaku pasar kemungkinan bukan rasa optimistis, melainkan kekhawatiran. Secara teori, kenaikan suku bunga biasanya bukan kabar baik bagi saham, terutama 

sektor perbankan dan sektor-sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan.

Dia bilang yang terjadi justru sebaliknya, BI tidak hanya menaikkan suku bunga, tetapi juga mengumumkan serangkaian langkah tambahan yang secara eksplisit ditujukan untuk mempertahankan stabilitas Rupiah dan menarik kembali dana asing. 

“Dalam situasi seperti sekarang, mungkin pasar lebih menghargai keberanian dan kredibilitas kebijakan dibandingkan sekadar level suku bunga itu sendiri,” ucap Liza. 

Secara teknikal, lanjut Liza, area 5.430–5.318 menjadi support utama IHSG. Sementara itu, area 5.900 menjadi target rebound jangka pendek yang perlu diuji terlebih dahulu sebelum pasar dapat berbicara mengenai pemulihan yang lebih berkelanjutan. 

“Dengan kata lain, setiap pembelian saat ini masih lebih cocok dikategorikan sebagai akumulasi bertahap atau speculative buy dibandingkan buy-and-hold jangka panjang yang agresif,” jelasnya. 

Baca Juga: Pradiksi Gunatama (PGUN) Realisasi Belanja Modal Rp 26,6 Miliar per Mei 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News