KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus tak berdaya hingga akhir perdagangan hari ini. Jumat (27/3/2026) pukul 16.00 WIB, IHSG ditutup melemah 67,034 poin atau 0,94% ke 7.097,057. Selama sepekan belakangan, pergerakan indeks mengalami pelemahan 0,56%. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan pelemahan IHSG sepanjang sepekan ini disertai dengan meningkatnya tekanan jual di pasar. Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi oleh durasi perdagangan yang relatif singkat menjelang dan setelah libur panjang Nyepi serta Idul Fitri.
Baca Juga: Prospek Kinerja Chandra Asri Pacific (TPIA) Bakal Lebih Menantang Tahun Ini "Selain itu, pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya terkait penjajakan menuju gencatan senjata, serta kenaikan harga minyak mentah yang terus berlanjut," kata Herditya kepada Kontan, Jumat (27/3/2026). Untuk perdagangan Senin (30/3/2026), Herditya memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi, dengan area support di 7.059 dan resistance di 7.136. Ia menambahkan, sentimen yang akan memengaruhi pergerakan pasar pada awal pekan depan masih berkisar pada dinamika geopolitik di Timur Tengah, serta kondisi pasar global yang masih cenderung bergerak korektif. Secara terpisah, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menambahkan pergerakan indeks dipengaruhi oleh sentimen negatif yang masih berasal dari ketidakpastian mengenai perundingan diplomatik antara AS dan Iran untuk menghentikan perang. Menurut Alrich, pernyataan yang kontradiktif diantara kedua negara tersebut menimbulkan ketidakpastian yang tinggi. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dan gas alam juga menjadi sentimen negatif, di tengah kekhawatiran akan gangguan supply serta dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi. Rupiah juga ditutup melemah 0.45% menjadi Rp16,980 per dolar AS di pasar spot. Secara teknikal, Alrich meramal IHSG masih akan cenderung bergerak sideways pada kisaran 7.000-7.200 di perdagangan Senin (30/3/2026).
Baca Juga: Harga Perak Dalam Fase Koreksi, Ini Skenario Pergerakannya Sementara itu data lainnya Money Supply M2 menunjukkan kenaikan 8.7% YoY di Februari 2026, melambat dari 10% di Januari 2026. Kenaikan ini terutama dikontribusikan oleh pasokan M1 yang tumbuh 14.4% YoY dan uang kuasi yang meningkat 3.1% YoY.
Pertumbuhan penyaluran kredit juga berkontribusi kepada kenaikan jumlah uang beredar. Pada pekan depan, dijadwalkan akan dirilis indeks S&P Global Manufacturing PMI bulan Maret 2026, neraca perdagangan Februari 2026, serta inflasi Maret 2026. Dari sisi teknikal, Herditya merekomendasikan pelaku pasar untuk mencermati sejumlah saham, yakni CUAN di kisaran Rp 1.475–Rp 1.745, DSNG pada level Rp 1.670–1.745, serta UNTR di area Rp 31.300–Rp 32.000. Adapun Alrich menyarankan sejumlah saham untuk dicermati pada pekan depan, antara lain MEDC, ENRG, PTRO, ANTM dan CUAN. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News