KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menutup perdagangan sepekan ini di zona merah. Sepanjang pekan, IHSG melemah 1,59% atau 113,21 poin, mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar saham domestik. Pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026), IHSG tercatat turun signifikan sebesar 2,19% ke level 7.026,78. Pelemahan ini menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor di tengah kombinasi sentimen global dan faktor domestik, terutama menjelang periode libur panjang. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan bahwa tekanan terhadap IHSG berasal dari faktor geopolitik serta sentimen musiman.
“Efek libur panjang mulai besok serta pidato Trump dalam melanjutkan kampanye perang melawan Iran turut memengaruhi pelemahan indeks,” ujar Nafan kepada Kontan, Kamis (2/4/2026). Menurutnya, meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Baca Juga: Tekanan Geopolitik Timur Tengah Picu Koreksi Harga Kripto Pandangan serupa disampaikan oleh Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang. Ia menilai pelemahan IHSG berkorelasi dengan lonjakan harga minyak mentah yang dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. “IHSG melemah setelah harga minyak mentah berbalik menguat akibat pidato Presiden Trump mengenai perang Iran,” jelasnya. Dalam pidato kenegaraan tersebut, Trump menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran akan terus berlanjut hingga seluruh target strategis tercapai. Bahkan, Amerika Serikat disebut berpotensi melancarkan serangan besar dalam dua hingga tiga pekan ke depan apabila tidak tercapai kesepakatan. Pernyataan tersebut langsung mendorong harga minyak mentah melonjak lebih dari 6% hingga menembus level US$ 107 per barel. Kenaikan harga energi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global. Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral, khususnya Federal Reserve, yang diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam menentukan langkah ke depan.
Baca Juga: OJK dan BEI Akan Bertemu Dengan MSCI Pasca Tuntaskan 4 Agenda Reformasi Pasar Modal Di sisi domestik, pelaku pasar cenderung mengambil posisi wait and see menjelang libur panjang, yang turut menekan volume dan aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia.
Untuk perdagangan awal pekan depan, Nafan memperkirakan pergerakan IHSG masih akan cenderung fluktuatif dengan ruang penguatan yang terbatas. Secara teknikal, IHSG diproyeksikan memiliki level support di kisaran 6.892 hingga 7.005. Sementara itu, level resistance berada pada rentang 7.117 hingga 7.222. Dengan masih tingginya tensi geopolitik global serta minimnya katalis positif dari dalam negeri, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih akan berada dalam tekanan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News