IHSG Melemah, Investor Masih Bisa Cuan lewat Saham Murah, Intip Rekomendasinya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja pasar saham domestik yang tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menunjukkan pelemahan yang cukup dalam. 

Sejak awal tahun hingga akhir perdagangan Rabu (11/3/2026), IHSG telah terkoreksi 14,54%. Dalam sebulan terakhir pun tekanan jual masih berlanjut, dengan indeks mencatatkan penurunan sebesar 8%. 

Dalam kondisi pasar yang tertekan seperti ini, investor dapat mempertimbangkan saham-saham yang masuk dalam indeks IDX Value30. Indeks ini mencerminkan kinerja harga dari 30 saham yang dinilai memiliki valuasi relatif murah, namun tetap ditopang oleh likuiditas transaksi yang memadai serta fundamental kinerja keuangan yang solid. 


Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menjelaskan pada saat pasar mengalami koreksi, investor biasanya mulai melakukan value hunting. Strategi ini dilakukan dengan mencari saham yang diperdagangkan pada valuasi rendah tetapi tetap memiliki likuiditas dan kinerja keuangan yang baik.

"Investor dapat melakukan strategi akumulasi bertahap pada saham-saham yang masih memiliki fundamental solid, serta memanfaatkan potensi mean reversion ketika sentimen pasar mulai membaik," kata Elandry kepada Kontan, Rabu (11/3/2026).

Baca Juga: IHSG Merosot 0,69% ke 7.389, Top Losers LQ45: AADI, ITMG dan BUMI, Rabu (11/3)

Secara terpisah, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, mengatakan strategi yang dapat ditempuh investor saat ini adalah buy on weakness secara bertahap guna menghindari risiko catching a falling knife.

Menurutnya, investor sebaiknya memfokuskan pilihan pada saham-saham dengan fundamental kuat, valuasi yang relatif murah seperti rasio PER dan PBV yang berada di bawah rata rata historis, serta memiliki rekam jejak dividend yield tinggi sebagai penyangga ketika indeks sedang melemah.

Pilihan Saham

Untuk jangka pendek, Elandry menyarankan investor dapat mencermati saham komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), yang relatif sensitif terhadap pergerakan harga komoditas global sehingga berpotensi memberikan rebound teknikal.

Untuk jangka menengah, saham industri seperti PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk dapat dicermati seiring potensi pemulihan permintaan global.

Sementara untuk jangka panjang, saham perbankan besar seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tetap menarik karena memiliki fundamental kuat, profitabilitas tinggi, serta pertumbuhan kredit yang relatif stabil.

Dari sisi prospek, ANTM masih didukung oleh eksposur terhadap komoditas emas dan nikel serta potensi dari pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. 

Sedangkan, ADRO memiliki arus kas kuat dari bisnis batu bara dan tengah melakukan diversifikasi ke sektor energi dan mineral dan INKP berpotensi diuntungkan dari pemulihan permintaan pulp dan kertas global.

Sementara itu, BMRI dan BBRI masih ditopang oleh pertumbuhan kredit domestik yang solid serta kualitas aset yang relatif terjaga, sehingga kinerja laba kedua bank tersebut masih berpotensi tumbuh stabil ke depan.

Baca Juga: IHSG Betah di Bawah 8.000, OJK Memantau Ketat Dinamika Pasar Saham

Wafi juga membagi pilihan saham berdasarkan horizon investasi. Untuk jangka pendek, ia menyoroti saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang dinilai berpotensi memanfaatkan momentum fluktuasi harga komoditas serta sentimen musim pembagian dividen.

Untuk jangka menengah, saham berbasis konsumsi domestik seperti PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dinilai cukup defensif terhadap volatilitas eksternal.

Sementara untuk jangka panjang, Wafi kembali menyoroti saham perbankan besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Menurutnya, kedua saham tersebut saat ini diperdagangkan pada valuasi yang relatif murah akibat tekanan jual dari investor asing.

Wafi menambahkan, sektor perbankan masih memiliki fundamental yang solid dengan pertumbuhan kredit serta laba yang stabil. 

"Penurunan harga saham yang terjadi belakangan lebih banyak dipicu oleh arus keluar dana asing sehingga menciptakan peluang valuasi yang lebih menarik," ucap Wafi.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Melemah pada Kamis (12/3), Ini Rekomendasi Analis

Di sektor energi seperti ADRO dan PTBA, pendapatan memang cenderung menyesuaikan dengan pergerakan harga batu bara global. Namun, kedua emiten tersebut memiliki neraca keuangan yang kuat serta rasio pembayaran dividen yang tinggi.

Adapun saham konglomerasi dan konsumer seperti ASII dan INDF dinilai relatif tangguh menghadapi gejolak eksternal. Selain itu, valuasinya saat ini juga berada di bawah rata-rata lima tahun terakhir, dengan dukungan daya beli domestik yang masih terjaga.

Rekomendasi Saham

Wafi menyarankan investor untuk mencermati saham BBRI, BMRI, ASII dan ADRO di target harga masing-masing Rp 5.500, Rp 6.500, Rp 6.000 dan Rp 2.800 per saham.

Adapun Elandry melihat peluang pada beberapa saham dengan potensi kenaikan dari level saat ini. Saham ANTM yang berada di sekitar Rp 4.000 berpotensi bergerak menuju Rp 4.400–Rp 4.600. Sementara ADRO yang berada di kisaran Rp 2.300–Rp 2.400 diproyeksikan dapat menuju Rp 2.600–Rp 2.700.

Untuk sektor perbankan, BMRI yang saat ini berada di kisaran Rp 4.900–Rp 5.000 berpotensi naik menuju Rp 5.300–Rp 5.600. Sedangkan BBRI yang diperdagangkan di kisaran Rp 3.500–Rp 3.600 berpotensi menguat ke area Rp 4.000–Rp 4.200.

"Secara umum, strategi akumulasi bertahap pada saham undervalued yang memiliki fundamental kuat dapat menjadi pendekatan yang relevan bagi investor dalam memanfaatkan peluang rebound ketika tekanan di pasar mulai mereda," tutup Elandry.

Baca Juga: IHSG Balik Melemah ke 7.437,8 di Sesi Pertama, Top Losers LQ45: INCO, AADI, INKP

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: