KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) ditutup menguat 65,94 poin atau 1,04% ke 6.409,65 pada akhir perdagangan Jumat (7/8/2026). Sebanyak 355 saham naik, 235 saham turun dan 203 saham stagnan. Kenaikan laju indeks menjelang akhir pekan ini membongkar kembali ruang penguatan pasar, meski lajunya diperkirakan bakal dibayangi oleh agenda kocok ulang (
rebalancing) portofolio indeks global.
Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mencatat, pergerakan positif IHSG di sesi I menguat 0,71% ke 6.388 dengan topangan sektor IDX Infrastructure, IDX Property, dan IDX Basic, di mana saham
ISAT menjadi top gainer melesat 16,32%, disusul
INDY dan
MBMA.
Baca Juga: JFX Catatkan Nilai Transaksi Rp 3.268 Triliun Sepanjang Juli Penguatan ini berhasil membalikkan arah koreksi tipis 0,12% pada hari sebelumnya yang diwarnai aksi jual bersih (
net sell) investor asing sebesar Rp 217 miliar. Menatap pekan depan, Wafi memproyeksikan IHSG bergerak di rentang support 6.300–6.330 dan resistance 6.377–6.420. Menurutnya, laju indeks memiliki kecenderungan bergerak
sideways-to-slightly positive, selama tidak terjadi kejutan negatif (
negative surprise) dari pengumuman rebalancing indeks MSCI pekan depan serta FTSE yang dijadwalkan pada 21 Agustus 2026. Selain sentimen rebalancing, pergerakan IHSG bulan ini turut dicermati dari rilis cadangan devisa Indonesia, data ketenagakerjaan AS, hingga lonjakan harga minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz di mana Brent naik 4% ke US$ 82,8 per barel. Tekanan juga datang dari nilai tukar rupiah yang berada di rentang Rp 17.900–Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), serta aksi profit taking di Wall Street. Guna menyikapi potensi gejolak pasar, investor disarankan lebih cermat dan tidak tergesa-gesa melakukan aksi beli saat indeks sedang menguat. "Jangan
chase di hari
rally karena rebalancing pekan depan bisa menciptakan volatilitas dua arah," ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (7/8/2026). Ia menekankan agar investor melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham dengan
free float bersih dan mencermati apakah net sell asing yang terjadi merupakan aksi profit taking sementara atau sinyal awal dari sebuah tren.
Dari sisi sektoral, Wafi mengatakan, sektor infrastruktur dan properti menarik untuk dicermati sebagai lokomotif penggerak pasar, sementara sektor energi masih diuntungkan oleh harga minyak yang
elevated. Untuk jajaran saham pilihan (top picks), ia merekomendasikan PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (
BMRI), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (
ADRO), PT Bukit Asam Tbk (
PTBA), dan PT Energi Mega Persada Tbk (
ENRG). "Hindari saham High Shareholding Concentration (HSC) yang rentan terhadap tekanan rebalancing pekan depan," tutup Wafi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News