IHSG melorot, rapor unitlink hingga April 2018 merah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja unitlink tertekan atau jeblok sampai bulan April 2018. Dari semua jenis unitlink mencatatkan imbal hasil negatif, baik itu dari unitlink berjenis saham, campuran maupun pendapatan.

Berdasarkan data Infovesta Utama, rata-rata unitlink saham membukukan imbal hasil minus 5,27%. Sementara imbal hasil unitlink campuran minus 3,08%, hal juga terjadi pada imbal hasil unitlink pendapatan tetap yaitu minus 0,37%.

Menurut Senior Research Analyst Infovesta Utama Praska Putrantyo, kinerja unit link berbasis saham mengalami tekanan karena disebabkan merosotnya indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga bulan April. Secara year to date (ytd) sampai April, IHSG turun atau minus di angka 5,68%.


Hal tersebut juga berpengaruh dengan alokasi portofolio unitlink campuran yang berisikan investasi ke surat utang dan juga saham. Sementara itu kinerja unitlink berbasis pendapatan ini mencatatkan hasil negatif karena melihat perkembangan pasar surat utang negara (SUN) yang relatif volatile ketimbang obligasi pasar korporasi.

“Mengikuti kinerja dari indeks pasar yang menjadi acuan yaitu Infovesta Govt Bond Index, di mana pada periode yang sama juga mencatatkan hasil yang negatif. Terlebih pasar SUN yang relatif fluktuatif dari pasar korporasi,” kata Praska kepada Kontan.co.id, Minggu (6/5).

Praska memproyeksikan kinerja unitlink di kuartal II diperkirakan masih fluktuatif sehingga akan relatif flat atau penguatan tipis, terutama pada kinerja unitlink berbasis saham maupun campuran yang terdapat instrumen saham.

“Sementara kinerja unitlink berbasis fixed income masih berpeluang mencatat hasil yang lebih unggul karena arus dana investor dari pihak asing mengalir ke pasar SUN dan masih tercatat surplus,” kata dia.

Kondisi unitlink itu didukung oleh faktor global maupun domestik yang bisa mempengaruhi sektor ekonomi dalam negeri. Dari faktor global, perlu adanya antisipasi terhadap kebijakan suku bunga the Fed yang beriringan akan kenaikan inflasi dan yield obligasi Amerika Serikat dengan masa tenor 10 tahun.

“Hal ini membuat dollar cenderung menguat secara relatif terhadap mata uang global termasuk rupiah yang terefleksi pada kenaikan indeks dolar. Di samping itu, berdasarkan rilis data ekonomi, seperti Amerika Serikat dan Tiongkok akan terjadi fluktuasi harga komoditas energi dan logam yang bisa mempengaruhi pergerakan bursa saham, terutama pada saham-saham berbasis komoditas tersebut,” jelasnya.

Sementara dari isu domestik, pelemahan rupiah akibat dollar masih menjadi sorotan dan bisa menjadi antisipasi bagi investor terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI) akan suku bunga acuan dan tren laju inflasi yang berpeluang naik ketika momentum hari raya Idul Fitri nanti.

“Tren aksi jual para investor asing di pasar domestik, terutama untuk pasar saham, masih masih berpotensi untuk menghambat potensi rebound bursa saham. Namun, faktor sell in may and go way, diperkirakan tidak berpengaruh banyak,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia