IHSG Menguat 0,94% dalam Sepekan, Cermati Peluang Rebound Pekan Depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,04% atau 62,48 poin ke level 6.093,76 pada perdagangan Jumat (9/10/2026). Dalam sepekan, IHSG tercatat menguat 0,94%.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif dengan volatilitas tinggi pada pekan depan, dalam rentang 6.000-6.215.

Pada Jumat (9/10/2026), IHSG menguat 1,04% ke 6.093,76 setelah sempat menyentuh 5.995,82. Menurut Reza, level 6.000 menjadi support psikologis penting yang beberapa kali memicu rebound. Namun, penguatan tersebut belum mengonfirmasi pembalikan tren karena IHSG masih berada di bawah moving average (MA) 20 di sekitar level 6.244.


Baca Juga: Begini Strategi Erajaya (ERAA) Tangkap Peluang Bisnis dari Peluncuran iPhone 18

Secara teknikal, resistance terdekat IHSG berada di level 6.155 dan 6.215. Jika mampu menembus 6.215, IHSG berpeluang melanjutkan rebound menuju MA20 di 6.244. Sebaliknya, jika kembali turun di bawah 6.000, indeks berisiko melanjutkan koreksi dengan support berikutnya di 5.854.

Dari sisi sentimen, Reza menilai pergerakan IHSG masih dibayangi sikap hawkish The Fed, kenaikan yield US Treasury, tekanan terhadap rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, serta harga minyak Brent yang bertahan di atas US$100 per barel yang meningkatkan risiko inflasi global.

Pekan depan, investor akan mencermati Consumer Price Index (CPI) AS pada 14 Oktober, Producer Price Index (PPI) pada 15 Oktober, serta data harga impor dan ekspor pada 16 Oktober. Hasil rilis tersebut dapat mempengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, dan arus dana asing ke emerging market.

Dari sisi saham, Reza masih merekomendasikan saham berbasis komoditas, yakni PTBA, ARCI, dan EMAS.

Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan penguatan IHSG pada Jumat (9/10/2026) sejalan dengan pergerakan bursa regional Asia yang juga menguat. Ia memperkirakan penguatan IHSG turut didorong oleh kenaikan harga komoditas emas.

Baca Juga: Simak Prospek Emiten Konsumer di Tengah Pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen

“Dalam sepekan ini IHSG bergerak menguat 0,94%, namun belum mampu break dari MA20-nya,” ujarnya. 

Dari sisi eksternal, data tenaga kerja AS yang jauh dari ekspektasi, dengan penambahan tenaga kerja hanya 29.000 sementara tingkat pengangguran naik sebesar 4,2%, sempat memunculkan ekspektasi bahwa The Fed akan bersikap dovish. Namun, pada FOMC Minutes, The Fed kembali mengindikasikan kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga pada akhir 2026. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke level 5,2%. 

Di sisi lain, harga minyak mentah masih cenderung tinggi kisaran US$ 90–US$ 103 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi energi.

Herditya menambahkan, kenaikan yield US Treasury turut mendorong penguatan US Dollar Index (DXY) dan menekan mata uang negara berkembang. Kondisi tersebut juga menekan IHSG, dan terjadi outflow sebesar Rp 2,48 triliun per data 8 Oktober 2026.

Dari sisi saham, Herditya menyarankan investor mencermati BRPT pada rentang Rp 1.505-Rp 1.630, BUMI pada rentang harga Rp 192-Rp 208, dan MDKA Rp 3.010-Rp 3.100.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News