KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) tercatat naik tipis dalam sepekan terakhir. Pada Jumat (9/10/2026), IHSG ditutup naik 1,04% dan parkir di 6.093. Dalam sepekan, IHSG tercatat naik 0,94%. Technical Analyst RHB Sekuritas Indonesia Ilham Fitriadi Budiarto mengatakan, IHSG sebenarnya mengalami tekanan jual yang cukup signifikan selama pekan ini. Setelah menguat 1,36% ke level 6.118,86 pada Senin (5/10/2026) lalu, IHSG sempat melanjutkan penguatan hingga 6.192 pada Selasa (6/10/2026).
Namun, indeks kemudian berbalik melemah dan ditutup di level 6.031,28 pada Kamis (8/10/2026), turun 1,88% dalam sehari.
Baca Juga: Ether Anjlok Lebih Dalam dari Bitcoin, Koreksi Kripto Berpotensi Berlanjut “Pada Jumat (9/10), IHSG bahkan sempat menguji level psikologis 6.000 sebelum kembali menguat pada sesi pertama,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (9/10/2026). Dari sisi sentimen, tekanan terhadap IHSG dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Pertama, kenaikan yield obligasi Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed yang mendorong investor dan trader lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham di
emerging market.
Kedua, pelemahan rupiah turut menambah tekanan terhadap pasar saham domestik karena berpotensi meningkatkan biaya impor dan beban perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar AS.
Ketiga, ketidakpastian politik dan kebijakan domestik setelah perombakan kabinet turut memengaruhi kepercayaan investor. Selain itu, aksi jual investor asing juga menjadi faktor yang perlu dicermati. “Kombinasi sentimen tersebut membuat pelaku pasar cenderung melakukan
profit taking dan mengurangi eksposur terhadap saham berisiko,” ungkapnya. Ilham memandang, secara teknikal, IHSG diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi, meskipun terdapat peluang
technical rebound setelah indeks menguji area psikologis 6.000.
Baca Juga: Rahayu Saraswati Akan Masuk Jajaran Komisaris Victoria Care (VICI) Untuk perdagangan Senin (12/10/2026) esok, IHSG pun diperkirakan bergerak dalam rentang 6.022–6.184. Area 6.022 dekat dengan area 6.000 yang menjadi level psikologis penting dan perlu dipertahankan. Apabila tekanan jual berlanjut dan IHSG menembus level tersebut, indeks berpotensi melanjutkan koreksi menuju area 5.845. “Sebaliknya, apabila IHSG mampu bertahan di atas 6.000 dan kembali menembus 6.184, potensi pemulihan jangka pendek akan semakin terbuka,” paparnya. Pergerakan IHSG pada awal pekan depan masih berpotensi dipengaruhi oleh sentimen bursa global, pergerakan rupiah, yield obligasi AS, serta arah aliran dana investor asing. “Namun, selama tekanan jual belum mereda dan IHSG belum mampu kembali ke atas area resistance terdekat, trader sebaiknya tetap mengantisipasi volatilitas pasar, tuturnya.
Ilham pun menyarankan investor untuk mencermati saham
VKTR,
TAPG,
ICBP, dan
ARCI untuk perdagangan Senin pekan depan. “Untuk trading jangka pendek, sebaiknya prioritaskan saham dengan likuiditas tinggi, volume transaksi yang memadai, serta pola teknikal yang menunjukkan potensi penguatan,” paparnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News