IHSG Menguat, Tapi Dibayangi Risiko Akibat Kegagalan Kesepakatan AS-Iran



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat pasca gagalnya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Pada Senin (13/4), IHSG ditutup menguat 0,56% ke level 7.500,19. 

Namun sebenarnya, gagalnya kesepakatan ini  kembali membayangi pasar keuangan. Kondisi ini memunculkan kembali kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas. 

Investment Specialist Maybank Sekuritas Haikal Putra mengatakan kegagalan kesepakatan antara Iran dan AS sebenarnya sudah sesuai ekspektasi pasar. Menurutnya, pelaku pasar sejak awal tidak berharap negosiasi tersebut dapat menghasilkan kesepakatan dalam waktu singkat. 


Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Menguat Besok (14/4), Intip Pilihan Sahamnya

“Dari sisi Iran, memang sudah diekspektasikan tidak mungkin Iran-AS bisa mencapai kesepakatan hanya dalam satu pertemuan,” jelasnya dalam paparan, Senin (13/4/2026).

Namun demikian, Haikal menilai kekhawatiran pasar meningkat seiring pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait potensi pemblokiran Selat Hormuz. Kondisi ini dinilai menjadi pemicu utama lonjakan kembali harga minyak dunia.

“Yang membuat pasar semakin khawatir adalah pernyataan Trump terkait rencana pemblokiran Selat Hormuz. Ini yang memicu harga minyak mentah dunia kembali melonjak,” jelas dia.

Menurut Haikal, gangguan terhadap jalur distribusi energi global berpotensi menekan pasokan minyak, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia.

Chief Economist and Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto menyebut upaya de-eskalasi konflik di Timur Tengah masih sangat rapuh. 

“Pasar sebenarnya sempat menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Namun, kondisi tersebut belum cukup kuat tanpa adanya sinyal de-eskalasi yang jelas,” tulisnya dalam riset yang dirilis, Senin (13/4/2026). 

Helmy menjelaskan kegagalan kesepakatan ini mengindikasikan bahwa sentimen gencatan senjata mulai memudar. Jika eskalasi meningkat, pasar berpotensi kembali memasuki fase risk-off.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.105 Usai Negosiasi AS–Iran Gagal, Ini Faktor Penekan Domestik

“Selama belum ada kepastian de-eskalasi, pasar akan cenderung defensif. Risiko outflow asing masih tinggi dan IHSG berpotensi mengalami koreksi kembali,” jelas dia.

Tekanan juga terlihat dari nilai tukar rupiah yang telah menembus level psikologis. Pada Selasa (14/4), rupiah spot ditutup melemah tipis ke level Rp 17.105 per dolar AS. 

Di sisi lain, konflik berkepanjangan juga mendorong kenaikan harga komoditas, terutama minyak. Ini membuka peluang bagi saham berbasis komoditas, khususnya sektor energi dan pertambangan. 

Kenaikan harga komoditas tersebut berpotensi menopang kinerja emiten di sektor terkait, meski arah pergerakannya tetap akan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan ekspektasi pasar terhadap keberlanjutan harga

Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana Hans Kwee menimpali Pelaku pasar kini kembali mencermati ketidakpastian keberlanjutan gencatan senjata, termasuk risiko berlanjutnya krisis energi. 

Untuk domestik, Hans mengatakan, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid. Indeks keyakinan konsumen tetap tinggi, mencerminkan optimisme masyarakat untuk menjaga konsumsi. 

Baca Juga: Kinerja Darya-Varia (DVLA) Tumbuh Moderat, Ini Rekomendasi Sahamnya

Lebih lanjut Hans memproyeksikan secara mingguan IHSG bisa menguat terbatas. Dari analisis teknikal, IHSG berpotensi bergerak dengan support di kisaran 7.118 hingga 7.300, serta resistance pada rentang 7.500 hingga 7.900. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News