KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) di zona hijau pada perdagangan akhir pekan ini. Di mana, IHSG ditutup menguat 11,91 poin atau 0,20% ke 5.924,36 pada akhir perdagangan Jumat (10/7/2026). Sebanyak 364 saham naik, 241 saham turun dan 185 saham stagnan. Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 18,11 miliar saham, dengan total nilai Rp 8,17 triliun. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, penguatan tersebut didorong oleh kombinasi aksi
technical rebound setelah koreksi sebelumnya serta membaiknya sejumlah sentimen domestik.
Dari dalam negeri, kenaikan cadangan devisa menjadi US$ 145,6 miliar, optimisme terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, serta ekspektasi rilis data ekonomi seperti inflasi dan neraca perdagangan yang relatif solid mampu menopang kepercayaan investor.
Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (10 Juli 2026), PGAS dan BRPT Jadi Sorotan Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati masuknya Indonesia ke dalam watchlist Frontier Market oleh S&P Dow Jones. “Namun, dampaknya relatif terbatas karena perhatian investor asing masih lebih tertuju pada evaluasi MSCI dan FTSE Russell yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap arus dana pasif,” katanya kepada Kontan, Jumat (10/7/2026). Sementara dari eksternal, sentimen masih dibayangi oleh FOMC Minutes yang memperkuat narasi
higher for longer, sehingga mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan menekan rupiah hingga mendekati Rp 18.100 per dolar AS. “Selain itu, kembali memanasnya konflik AS-Iran meningkatkan harga minyak dunia dan menjaga volatilitas pasar tetap tinggi,” paparnya. Secara keseluruhan, meski IHSG masih mampu mencatatkan kenaikan mingguan, penguatan tersebut belum sepenuhnya didukung oleh peningkatan likuiditas maupun arus dana asing. “Sehingga, pasar masih bergerak dalam fase
rebound terbatas dan cenderung sensitif terhadap perkembangan sentimen global,” tuturnya.
Baca Juga: Simak Prospek Kinerja Bach Multi Global (BACH) & Esa Medika (EMMI) Usai Sukses IPO Sementara itu, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana bilang, selama sepekan ini, IHSG bergerak menguat 0,83% dan disertai dengan munculnya volume pembelian. Ada beberapa hal mempengaruhi pergerakan IHSG.
Pertama, peringatan S&P DJI terhadap status pasar Indonesia yang memicu kekhawatiran investor.
Kedua, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terdepresiasi dan tercatat saat ini berada pada level Rp 18.100 per dolar AS. “Pergerakan harga komoditas dunia, dimana terpantau harga minyak mentah menguat di US$ 71 per barel dan harga emas yang melandai di US$ 4.106 per ons troi,” tuturnya. Reza memperkirakan, IHSG masih bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas pada kisaran support 5.850–5.880 dan resistance psikologis 6.000–6.050. “Momentum teknikal mulai membaik seiring MACD yang bergerak positif, namun IHSG masih perlu menembus area 6.000 sebagai konfirmasi penguatan lanjutan,” paparnya. Pasar akan mencermati beberapa sentimen utama pada Senin esok. Terutama, perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi kembali mendorong kenaikan harga komoditas, khususnya minyak dunia. Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat (US CPI). Apabila inflasi kembali meningkat akibat tingginya harga energi, ekspektasi suku bunga The Fed bertahan tinggi (
higher for longer) akan semakin menguat. Sehingga, berpotensi menopang penguatan dolar AS, menekan rupiah, dan membatasi ruang penguatan IHSG.
“Sebaliknya, apabila data inflasi lebih rendah dari ekspektasi pasar, peluang risk-on dan arus dana ke pasar saham emerging markets, termasuk Indonesia, akan semakin terbuka,” katanya. Herditya memperkirakan, IHSG bergerak menguat terbatas dengan support 5.904 dan resistance 5.939. “Sentimennya berasal dari investor yang masih mencermati nilai tukar Rupiah yang masih terdepresiasi dan juga pergerakan harga komoditas dunia,” katanya.
Herditya menyarankan investor mencermati saham
ARCI dengan target harga Rp 1.115 - Rp 1.225 per saham,
BMRI Rp 4.180-Rp 4.270 per saham, dan
TAPG Rp 1.625-Rp 1.700 per saham.
Baca Juga: Wall Street Reli: S&P 500 Dekati Rekor Tertinggi, Debut SK Hynix Sokong Nasdaq Di sisi lain, Reza merekomendasikan beli untuk
ELSA dan
PGAS dengan target harga masing-masing Rp 670-Rp 685 per saham dan Rp 1.480-Rp 1.520 per saham. Rekomendasi
trading buy disematkan untuk ARCI dengan target Rp 1.020–Rp 1.050 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News