KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) berhasil menutup perdagangan Senin (31/8/2026) dengan menguat 0,11% ke level 6.525,48. Padahal di sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di teritori negatif. Alhasil, IHSG ditutup menguat 4,64% secara bulanan atau Month on Month (MoM) di sepanjang Agustus 2026. Namun sepanjang 2026 berjalan ini, IHSG masih terkoreksi 24,53%.
Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menyampaikan tekanan akan datang dari pidato Chairman the Fed yang cenderung hawkish, konflik di Timur Tengah yang berkepanjangan hingga koreksi harga emas.
Baca Juga: Tak Berizin OJK, Satgas PASTI Hentikan Kegiatan YWWSDC dan RTHAE “Serta pelaku pasar tengah mengantisipasi efektifnya rebalancing indeks MSCI bulan Agustus, telah menjadi faktor-faktor yang memengaruhi tekanan indeks ,” jelasnya, Senin (31/8). Alrich menjelaskan Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level MA5 dan Stochastic RSI membentuk indikasi
reversal di area pivot. Namun, lanjut dia, indikator histogram positif MACD melemah. “Sehingga diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran level 6,450-6,570 pada perdagangan awal September 2026,” kata Alrich. Di sisi lain,
Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG menguat dengan kecenderungan terbatas. Investor dapat mencermati
support di level 6.502 dan
resistance 6.537. “Investor menanti ada rilis data inflasi dan neraca dagang Indonesia, tak hanya itu, investor juga mencermati tensi geopolitik Timur Tengah yang belum meredam,” jelasnya. VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menambahkan data inflasi Indonesia periode Agustus 2026 yang diperkirakan tumbuh sebesar 2,86% YoY dan rilis data PMI manufaktur yang diperkirakan masih di zona ekspansif atau di level 50,5.
Baca Juga: Hari Ini Melemah, Begini Prediksi Pergerakan Rupiah, Selasa (1/9) “Sehingga hal ini akan cenderung direspon moderat oleh pasar karena belum adanya perubahan materil,” kata Audi. Audi mencermati pergerakan IHSG juga dipengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah seiring dengan pelemahan DXY sehingga pasar akan cenderung merespon positif jika tren berlanjut. Rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.722 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (31/8/2026). “Di sisi lain, kenaikan harga minyak pasca serangan militer AS dengan target rocket launcher dan menjadikan serangan pertama lebih dari sebulan terakhir kembali meningkatkan kekhawatiran pasar,” jelasnya.
Oleh karena itu, Audi memproyeksikan IHSG akan bergerak
mixed cenderung menguat terbatas dalam rentang level
support 6.428 dan
resistance 6.585 dengan indikator MACD menunjukkan tren yang melandai. Untuk perdagangan Selasa (1/9), Kiwoom Sekuritas merekomendasikan speculative buy MEDC dengan support di Rp 1.340 dan resistance di level Rp 1.545. Kemudian trading buy ESSA dengan area support dan resistance di Rp 610–Rp 720.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Sideways-Bearish di September 2026, Cek Rekomendasi Sahamnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News