IHSG Naik 0,15% ke 6.130 Sesi I Rabu (30/9), Saham Top Gainers LQ45: UNTR, HRTA, DEWA



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di zona hijau pada perdagangan sesi pertama, Rabu (30/9/2026).

Mengutip data RTI, IHSG naik 0,15% atau 9,186 poin ke level 6.130,886 hingga penutupan sesi I. Sebanyak 409 saham tercatat naik, 236 saham turun, dan 143 saham stagnan.

Total volume perdagangan mencapai 19,6 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 6,4 triliun.


Sebanyak tujuh indeks sektoral menopang penguatan IHSG pada sesi pertama. Tiga sektor dengan kenaikan tertinggi adalah IDX-Industry yang menguat 1,63%, IDX-NonCyc naik 1,06%, dan IDX-Basic menguat 0,91%.

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp 17.849 Per Dolar AS Siang Ini (30/9), Paling Perkasa di Asia

Di jajaran saham LQ45, penguatan terbesar dicatatkan oleh PT United Tractors Tbk (UNTR) yang naik 4,27% ke Rp 26.250. Kemudian PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menguat 3,67% ke Rp 2.260 dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik 2,94% ke Rp 350.

Sementara itu, tiga saham LQ45 yang mengalami penurunan terbesar adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), yang turun 13,51% ke Rp 32. Selanjutnya, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melemah 3,77% ke Rp 1.405 dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) turun 2,35% ke Rp 1.455.

Baca Juga: ASGR Segera Tebar Dividen Interim Jumbo, Intip Profil hingga Kinerja Terkininya

 
UNTR Chart by TradingView

Secara teknikal, IHSG masih berpotensi bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah. Meski demikian, terdapat indikasi technical rebound setelah indeks mengalami penolakan di area psikologis 6.000.

BRI Danareksa Sekuritas menempatkan level support IHSG di 6.000 dan 5.854. Sementara itu, resistance terdekat berada di level 6.200 dan 6.375.

"Selama belum mampu menembus level 6.200, IHSG masih berisiko melanjutkan tekanan. Sebaliknya, jika berhasil menembus level tersebut, indeks berpeluang memasuki fase pemulihan teknikal," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam Sajian Pagi Menu Trading (SAPA MENTARI).

Selain faktor teknikal, investor masih mencermati sentimen eksternal, terutama perkembangan pasar obligasi global.

Pasar obligasi global menghadapi tekanan sepanjang September seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah, lonjakan penerbitan surat utang, serta inflasi yang masih tinggi. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil atau yield obligasi di sejumlah negara.

Baca Juga: IHSG Rebound Perdagangan Terakhir September Rabu (30/9), UNTR dan HRTA Jadi Penopang

Kenaikan yield obligasi pemerintah menjadi perhatian investor karena instrumen tersebut menjadi acuan bagi harga berbagai aset keuangan, termasuk saham, sekaligus memengaruhi biaya pembiayaan korporasi.

Yield US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 5,2383% pada perdagangan Asia, mendekati level tertinggi sejak 2007.

Sepanjang September, yield tersebut berada di jalur kenaikan hampir 50 basis poin, yang berpotensi menjadi kenaikan bulanan terbesar dalam sekitar dua tahun.

Kenaikan yield yang berlangsung berkepanjangan dapat meningkatkan biaya refinancing perusahaan dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, dampaknya terhadap pasar saham sejauh ini masih relatif terbatas.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,2% pada awal perdagangan Rabu. Indeks Nikkei Jepang menguat 0,9%, sementara Kospi Korea Selatan juga bergerak positif dan berada di jalur penguatan sekitar 1,4% sepanjang September.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News