KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan cukup dalam sepanjang September 2026. Meski secara historis Oktober kerap menjadi periode positif bagi pasar saham, sejumlah faktor eksternal dan domestik masih berpotensi membatasi penguatan IHSG. Pada akhir perdagangan Rabu (30/9/2026), IHSG ditutup di level 6.071,13. Dalam sebulan terakhir, IHSG telah terkoreksi 7,95%, sementara secara year to date (YTD) penurunannya mencapai 29,79%. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengatakan, secara historis kinerja pasar saham di bulan Oktober memang cenderung positif. Dengan demikian, peluang IHSG membaik dibandingkan September tetap terbuka.
“Namun tekanan dari yield US Treasury (UST) yang tinggi, rupiah, harga minyak, dan arus dana asing masih membatasi kenaikan,” ujarnya, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah 0,83%, Cermati Proyeksi Analis untuk Perdagangan, Kamis (1/10) Co-Founder Alphagate Capital dan Former Chief Indonesia Strategist of J.P. Morgan Henry Wibowo mengatakan, IHSG pada Oktober berpeluang membaik dibanding September, meskipun volatilitas masih akan tinggi. Menurut Henry, sentimen positif dapat berasal dari potensi bargain hunting dan fundamental sejumlah sektor yang masih kuat. Sementara itu, risiko utama masih berasal dari arah kebijakan suku bunga The Fed. Jika The Fed terus menaikkan suku bunga, negara lain termasuk Indonesia akan ikut menghadapi tekanan suku bunga yang lebih tinggi sehingga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. “Selain itu, pelemahan rupiah dan perkembangan defisit fiskal juga perlu dicermati,” ujarnya kepada Kontan, Rabu. Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto melihat, IHSG berpeluang mengalami stabilisasi dan rebound pada Oktober setelah tekanan cukup besar sepanjang September. Namun, menurutnya, faktor musiman Oktober bukan alasan utama untuk menjadi bullish. “Sebab, kondisi pada Oktober 2026 lebih tepat dilihat dari perkembangan nilai tukar rupiah, global bond yields, dan foreign flows dibandingkan sekadar pola musiman,” ujarnya, Rabu.
Baca Juga: Biaya Produksi Naik 52%, Margin Emiten Plastik Bisa Tertekan hingga Akhir 2026 Menurut Rully, faktor terpenting yang perlu diperhatikan adalah nilai tukar rupiah yang saat ini sudah berada di sekitar Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Selama rupiah dapat distabilkan di sekitar level tersebut dan tekanan jual asing mulai mereda, ruang technical rebound IHSG masih cukup terbuka. “Sebaliknya, apabila level Rp18.000 berubah dari resistance psikologis menjadi titik awal pelemahan lebih lanjut, investor asing berpotensi kembali mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia,” katanya.
Proyeksi IHSG Oktober 2026
Budi memproyeksikan IHSG akan bergerak di kisaran 5.850–6.400 pada Oktober 2026 dengan kecenderungan sideways hingga rebound terbatas. Sementara itu, Rully memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 5.900–6.500 sepanjang Oktober. Di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, Budi menyarankan investor mencermati arah suku bunga AS dan yield UST, pergerakan rupiah, foreign flow, harga minyak, keputusan Bank Indonesia (BI), serta laporan keuangan emiten untuk kuartal III 2026. “Karena kondisi global masih tidak pasti, Oktober lebih cocok menjadi stock-picking market daripada sekadar mengikuti kenaikan indeks,” katanya. Henry juga menilai investor perlu memperhatikan kondisi fiskal dan defisit pemerintah. Menurutnya, strategi selective lebih tepat dilakukan investor dibandingkan mengambil posisi secara agresif.
Baca Juga: Strategi Intervensi BI Berubah, Cermati Dampaknya ke SBN dan SRBI? “Khususnya pada sektor dengan structural growth dan earnings visibility yang kuat, terutama data center beserta supply chain, serta energi dan komoditas,” paparnya.
Menurut Henry, pertumbuhan artificial intelligence (AI), cloud computing, digitalisasi, serta kebutuhan penyimpanan data akan terus mendorong permintaan terhadap data center, fiber, connectivity, power infrastructure, dan supporting infrastructure lainnya. “Sektor komoditas, khususnya energi seperti batubara dan minyak, juga masih menarik. Sebab harga jual komoditas berada pada level yang tinggi sehingga mendukung pendapatan dan cash flow perusahaan,” paparnya. Sementara itu, Rully melihat sektor telco, poultry, dan perbankan sebagai sektor unggulan pada Oktober 2026. Ia juga merekomendasikan beli saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan target harga Rp3.400 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News