KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) kembali jatuh ke bawah level 8.000. Jumat (6/2/2026), IHSG ditutup terkoreksi 2,08% ke posisi 7.935,26. Dalam sepekan, IHSG anjlok hingga 4,73%, disertai aksi jual bersih (net sell) investor asing di seluruh pasar yang mencapai Rp 3,62 triliun. Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, meramal pergerakan bursa saham domestik masih berada dalam tekanan dan volatilitas yang tinggi untuk perdagangan pekan depan, Senin (9/2/2026) hingga Jumat (13/2/2026).
Hendra berpendapat sentimen negatif dari sejumlah lembaga global seperti Goldman Sachs, UBS, Moody’s, hingga MSCI jelas menjadi beban psikologis bagi pelaku pasar.
Baca Juga: IHSG Rawan Koreksi Usai Moody's Pangkas Outlook Kredit Indonesia "Penurunan peringkat IHSG menjadi
underweight oleh Goldman Sachs, disusul UBS yang menurunkan rekomendasi saham Indonesia ke level netral, memperkuat persepsi bahwa daya tarik pasar domestik di mata investor global sedang menurun," kata Hendra kepada Kontan, Minggu (8/2/2026). Tekanan tersebut semakin terasa setelah Moody’s menurunkan
outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun status
investment grade masih dipertahankan. Artinya, risiko memang belum terjadi, tetapi arah risikonya kini dinilai memburuk. Di tengah kondisi tersebut, IHSG berpotensi kembali mengalami koreksi terbatas dalam jangka pendek, terutama jika belum ada katalis positif baru yang mampu memulihkan kepercayaan investor. Hendra menerangkan secara teknikal,
area support IHSG diperkirakan berada di kisaran 7.850 hingga 7.900. Jika level ini ditembus, maka tekanan bisa berlanjut ke area psikologis berikutnya. Sementara itu, level
resistance terdekat berada di kisaran 8.000 hingga 8.050, yang berpotensi menjadi area jual selama sentimen global dan domestik belum membaik.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi Respons Mundurnya SRO, Asing Mulai Masuk Pasca Pertemuan MSCI "Dengan kata lain, pergerakan indeks masih cenderung
sideways dengan bias melemah," ucap Hendra.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, mengamini volatilitas pasar masih akan tinggi. Tekanan juga datang dari pergerakan nilai tukar setelah Moody’s menurunkan
outlook Indonesia. Adapun menurut Rully, sentimen yang dapat mendorong investor asing kembali ke pasar domestik bergantung pada langkah dan komunikasi kebijakan pemerintah. "Terutama upaya perbaikan atas berbagai isu yang memicu penurunan kepercayaan investor asing, termasuk risiko fiskal, independensi Bank Indonesia, serta peningkatan transparansi dan keterbukaan informasi emiten sesuai tuntutan MSCI," ujar Rully kepada Kontan, Minggu (8/2/2026).