KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (23/7/2026), seiring meningkatnya tekanan dari sentimen global yang memicu sikap hati-hati pelaku pasar. IHSG melemah 0,30% ke level 6.315,31 setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan. Sempat menyentuh level tertinggi harian di kisaran 6.454 berkat optimisme terhadap prospek ekonomi domestik, indeks akhirnya berbalik arah dan ditutup di wilayah negatif. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Alrich Paskalis Tambolang, menilai pelemahan IHSG dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang mencapai level tertinggi dalam enam pekan terakhir.
“Harga minyak mentah menguat lebih dari 3%, dengan WTI dan Brent masing-masing berada di atas US$89 per barel dan US$97 per barel akibat eskalasi konflik AS-Iran,” jelasnya kepada Kontan, Kamis (23/7/2026). Menurut Alrich, kenaikan harga minyak tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko inflasi global dan tekanan terhadap perekonomian, sehingga pelaku pasar memilih menerapkan strategi perdagangan jangka pendek.
Baca Juga: IHSG Diprediksi Melemah Terbatas Jumat (24/7), Investor Mulai Ambil Untung Di sisi lain, tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan pasar spot, rupiah tercatat melemah 0,11% ke level Rp17.936 per dolar Amerika Serikat. Secara teknikal, Alrich menjelaskan bahwa indikator Stochastic RSI IHSG telah membentuk pola death cross di area overbought. Sementara itu, histogram MACD masih berada di zona positif, meski mulai menunjukkan pelemahan momentum. “Jika IHSG breakdown dari MA5 di sekitar 6.279, maka berpotensi menguji support berikutnya di kisaran 6.200-6.250,” jelasnya. Sementara itu, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan koreksi IHSG pada perdagangan Kamis masih sesuai dengan proyeksi sebelumnya, mengingat pasar memang tengah rentan terhadap aksi ambil untung (profit taking). “IHSG ditutup terkoreksi 0,3% setelah sempat menguat di sesi pertama, ini sejalan dengan potensi profit taking,” katanya. Herditya menambahkan, pergerakan IHSG saat ini masih banyak dipengaruhi oleh saham-saham konglomerasi, sedangkan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps) justru mengalami tekanan.
Baca Juga: Prospek SMGR Andalkan Permintaan Domestik, Oversupply Masih Jadi Tantangan Proyeksi IHSG Jumat (24/7/2026)
Untuk perdagangan Jumat (24/7/2026), Herditya memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan di tengah tingginya ketidakpastian global. “Kami perkirakan IHSG rawan koreksi dengan support di 6.296 dan resistance di 6.366,” ujarnya. Menurutnya, potensi aksi profit taking masih cukup besar. Selain itu, investor juga akan terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang telah mendorong kenaikan harga minyak dan emas, sehingga berpotensi memengaruhi sentimen di pasar keuangan.
Rekomendasi Saham
Di tengah potensi koreksi IHSG, Herditya merekomendasikan beberapa saham yang layak dicermati investor pada perdagangan Jumat, yaitu:
- BBRI pada kisaran harga Rp3.120–Rp3.180 per saham.
- EMAS pada rentang Rp6.450–Rp6.700 per saham.
- EXCL pada level Rp2.660–Rp2.740 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News