KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung
mixed dan
wait and see menjelang rilis hasil
rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI). Setelah terkoreksi dua hari berturut-turut, indeks mencatatkan
rebound sebesar 1,69% ke level 6.373 pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih menjelaskan untuk jangka pendek, penguatan IHSG akan tertahan ketat di area resistance 6.400-6.500. Ini disebabkan oleh derasnya tekanan
outflow modal asing, di mana hasil analisis ekonometrika U-MIDAS selama lima tahun terakhir menunjukkan setiap
net outflow sebesar Rp 1 triliun dapat menekan IHSG secara
real-time hingga 54,6 poin.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Kamis (13/8), Ini Proyeksinya Untuk jangka menengah, IHSG diproyeksikan bergerak konsolidasi di kisaran 6.200-6.500 sampai terdapat kepastian mengenai status Indonesia pada review MSCI edisi November 2026. "Sementara hingga akhir tahun, arah pasar bergantung pada stabilitas Rupiah dan masuknya kembali arus modal asing, dengan potensi pemulihan bertahap menuju area 6.600-6.800," kata Ratih kepada Kontan, Rabu (12/8/2026). Ratih menyoroti dua saham yang berada di posisi rentan dalam review MSCI kali ini, yakni CPIN dan GOTO. Menurutnya, CPIN menjadi kandidat potensi
downgrade dari Standard Index ke Small Cap Index, menyusul anjloknya harga saham sebesar 22% sejak rebalancing MSCI terakhir efektif pada 2 Juni hingga 12 Agustus 2026 ke level Rp3.150. Selain itu, kapitalisasi pasar CPIN turut tergerus ke Rp 51 triliun, diperparah dengan akumulasi outflow asing sebesar Rp 326 miliar. Sementara itu, GOTO dinilai berisiko dikeluarkan secara penuh dari indeks akibat kebuntuan likuiditas, karena harganya tertahan di batas minimum perdagangan Rp50 per saham. "Dampak langsung bagi kedua emiten ini adalah gelombang aksi jual otomatis (
forced selling) oleh
passive fund dan ETF global. Meskipun, keputusan final menjadi wewenang pihak MSCI," tambah Ratih.
Baca Juga: Rupiah dan Yen Masih Tertekan, Ini Sentimen Penggerak Valas Asia Sebagai catatan tambahan, Ratih bilang agar saham Indonesia dapat masuk ke dalam MSCI Emerging Markets Standard Index, emiten wajib memenuhi kriteria minimal kapitalisasi pasar, porsi saham publik, dan likuiditas perdagangan yang diatur dalam MSCI Global Investable Market Indexes Methodology. Kriteria tersebut meliputi kapitalisasi pasar perusahaan (
full market cap) di atas US$ 3,937 miliar atau setara Rp70 triliun, serta float market cap via Foreign Inclusion Factor (FIF) di atas US$ 1,969 miliar atau setara Rp35 triliun, dengan asumsi kurs Rp17.800 per dolar AS, berdasarkan acuan Global Minimum Size Reference untuk Emerging Markets. Dari sisi sentimen, Ratih menyoroti langkah strategis Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam memperketat tata kelola pasar, melalui penegakan pengungkapan data
High Shareholding Concentration (HSC), penetapan batas minimum
free float 15%, reklasifikasi 39 kategori investor, serta transparansi kepemilikan di atas 1%. Menurutnya, pelaku pasar dinilai tidak perlu merespons secara berlebihan terhadap kebijakan tersebut. Fokus penyedia indeks global saat ini bertumpu pada konsistensi implementasi kebijakan, mengingat proses penyesuaian (
clean-up) konstituen yang mendasar telah sebagian besar dieksekusi pada review indeks edisi Mei 2026.
Arus Dana Asing Masih Tertekan Ratih menambahkan, arus dana asing masih dibayangi aksi jual bersih (
net outflow) yang masif. Sejak
rebalancing Mei efektif pada 2 Juni 2026, akumulasi
outflow di pasar reguler telah menembus Rp30 triliun, ditambah
outflow mingguan sebesar Rp672 triliun per Rabu (12/8/2026). Ratih menjelaskan, Big Fund global cenderung mengambil posisi defensif terhadap pasar saham Indonesia, seiring bobot Indonesia yang menyusut ke level 0,45% dan hanya diwakili oleh 11 saham dalam Global Standard Index Emerging Market. Kombinasi antara pembatasan bobot MSCI dan tekanan kurs turut mendorong rebalancing portofolio investor global ke negara-negara emerging markets lain dengan bobot lebih besar dan likuiditas yang lebih terjamin. Rekomendasi Saham Berdasarkan analisis teknikal per
closing price 12 Agustus 2026, Ratih membagikan sejumlah pilihan saham beserta trading plan-nya sebagai berikut: 1. PT Medco Energi Internasional Tbk (
MEDC) Rekomendasi: Trading buy, dengan target resistance di Rp1.400 dan support di level Rp1.200. 2. PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (
ADMR)
Rekomendasi: Accumulativ buy, dengan target resistance di Rp1.700 dan support di level Rp1.550. 3. PT Chandra Daya Investasi Tbk (
CDIA) Rekomendasi: Trading buy, dengan target resistance di Rp 800 dan support di level Rp 650 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News