IHSG Rebound Usai Koreksi Tajam, Analis Ingatkan Risiko Dead Cat Bounce



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat setelah turun tajam dalam tiga hari perdagangan sebelumnya. 

Kamis (5/3/2026), IHSG melonjak 133,47 poin atau 1,76% menjadi 7.710,54 pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai, meski terjadi penguatan, investor tetap perlu mencermati sejumlah sentimen yang berpotensi menekan pasar ke depan.


Baca Juga: Kinerja Reksadana Positif pada Awal Tahun, Ini Proyeksi Return 2026

“Dari sisi global, tekanan datang dari meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong volatilitas pasar serta meningkatkan risk-off sentiment di kalangan investor global,” ujar Reza kepada Kontan, Rabu (5/3/2026)

Sementara dari dalam negeri, sentimen muncul dari keputusan Fitch Ratings yang menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat kredit tetap di level BBB. 

Revisi outlook tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terkait konsistensi fiskal ke depan.

Di sisi lain, kebijakan keterbukaan data pemegang saham di atas 1% oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai penyesuaian terhadap standar MSCI dinilai positif dari sisi transparansi pasar. Namun dalam jangka pendek, kebijakan ini berpotensi memicu sikap lebih berhati-hati dari sebagian investor.

Secara teknikal, Reza melihat IHSG masih berada dalam tren tertekan dalam jangka pendek. Ia memproyeksikan area support IHSG berada di kisaran 7.500–7.580 dan resistance di area 7.825–7.970.

“Kekhawatiran kami, penguatan hari ini berpotensi hanya bersifat technical rebound atau dead cat bounce sebelum IHSG kembali menguji area support terdekatnya,” jelasnya.

Karena itu, strategi yang dapat diterapkan investor saat ini adalah lebih selektif dalam memilih sektor dan saham. 

Fokus dapat diarahkan pada sektor yang memiliki korelasi positif dengan sentimen global, khususnya sektor komoditas seperti emas, minyak bumi, batubara, dan crude palm oil (CPO).

Sejalan dengan kondisi global saat ini, Reza melihat peluang lebih menarik pada saham-saham berbasis komoditas yang berpotensi mendapat dukungan dari kenaikan harga komoditas global.

Baca Juga: Elnusa (ELSA) Berpeluang Kembali Raih Kinerja Positif pada 2026, Ini Pendorongnya

Untuk sektor emas, saham yang dapat dicermati antara lain ARCI, MDKA, dan HRTA. Di sektor minyak dan energi, investor dapat memperhatikan ELSA, AKRA, dan MEDC.

Sementara di sektor batubara, saham AADI dan PTBA dinilai menarik. Adapun untuk sektor CPO, TAPG dan DSNG dapat menjadi pilihan.

Menurut Reza, saham-saham tersebut cenderung memiliki korelasi positif terhadap pergerakan harga komoditas global sehingga berpotensi lebih resilien di tengah ketidakpastian pasar saat ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News