KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Koreksi tajam pasar saham Indonesia di akhir Januari 2026 masih membekas di benak investor. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) mengalami
trading halt dua hari berturut-turut setelah anjlok 8%. Namun pada perdagangan Selasa (3/2/2026), IHSG ditutup menguat 2,52% ke level 8.112,60. Padahal IHSG membuka perdagangan dengan melemah hingga menyentuh titik rendah di 7.712,34. Di tengah fluktuasi yang masih tinggi, investor bisa kembali melirik saham-saham dengan potensi dividen menarik. Strategi berbasis dividen dinilai mampu memberikan bantalan imbal hasil di tengah ketidakpastian.
Baca Juga: Saham Big Banks Bergerak Variatif Selasa (3/2), Simak Rekomendasi Analis Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas Chory Agung Ramdhani bilang di tengah fluktuasi saat ini, strategi paling bijak bukan sekadar mencari yang murah, tetapi yang murah dan mampu membayar. Menurutnya, Februari menjadi fase akumulasi terbaik jelang musim Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Maret hingga Mei. Sebab, di Februari ini beberapa emiten sudah mulai merilis kinerja setahun penuh. “Fokus pada
dividend yield karena pada saat harga saham turun atau koreksi, tetapi nilai dividen yang dibagikan tetap atau naik maka imbal hasil yang investor dapatkan justru tinggi,” jelasnya kepada Kontan, Selasa (3/2/2026).
Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham Teknikal TOWR, PANI, ANTM untuk Rabu (4/2) Chory mencontohkan, jika ada saham berharga Rp 1.000 dengan dividen Rp 100, maka
dividend yield yang ditawarkan mencapai 10%. Jika harga terkoreksi ke Rp 800 dengan dividen sama, yield naik menjadi 12,5%. “Pendekatan mencicil atau
dollar-cost averaging relevan diterapkan pada saham berfundamental kuat. Ini efektif untuk mengelola risiko timing di pasar yang masih bergejolak,” kata Chory. Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menambahkan bahwa pasar masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat. Namun, kondisi ini justru membuka peluang akumulasi bertahap bagi investor berorientasi menengah. “Momentum saat ini relatif menarik, terutama bagi investor dengan horizon menengah, namun tetap selektif karena tidak semua saham murah berarti dividennya berkelanjutan,” ujarnya.
Baca Juga: IHSG Bergejolak, Ini Rekomendasi Instrumen Defensif dari Ajaib Sekuritas Dia memproyeksikan emiten emas berpotensi mencatatkan dividen lebih baik seiring kenaikan harga emas global sepanjang 2025. Namun, investor perlu mencermati kebijakan emiten karena sebagian emiten masih memprioritaskan ekspansi.