IHSG Rentan Tertekan, Imbas Sentimen Pembatalan Tarif Trump oleh Mahkamah Agung AS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang tertekan pasca keputusan Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS) soal Tarif Trump.

Asal tahu saja, MA AS membatalkan tarif dagang Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya Indonesia telah menyepakati pemberlakuan tarif AS sebesar 19% pada Jumat (20/2/2026). Tak berselang lama, MA AS membatalkan kebijakan tarif resiprokal yang ditetapkan Trump karena dianggap tidak sah. 

Merespons putusan itu, Trump menyatakan telah menandatangani ketetapan tarif baru untuk semua negara atau tarif global sebesar 10%.


Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan melihat, IHSG kemungkinan besar akan mengalami tekanan volatilitas di jangka pendek hingga menengah. Tekanan utama datang dari pelemahan rupiah dan potensi penurunan volume ekspor dari mitra dagang utama AS.

Baca Juga: Keputusan Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump Kerek Harga Emas

Meskipun begitu, jika hal ini hanya berupa pengumuman, dampaknya ke pergerakan IHSG kemungkinan hanya dalam jangka pendek atau dalam hitungan mingguan.

“Namun, jika resmi diberlakukan, efeknya bisa bersifat menengah (satu-dua kuartal) sampai pasar menemukan keseimbangan baru dalam rantai pasok global,” ujarnya kepada Kontan, Senin (23/2/2026).

Indo Premier Sekuritas (IPOT) memproyeksikan pergerakan IHSG pada periode Senin (23/2/2026) hingga Jumat (27/2/2026) akan bergerak dalam kisaran level support 8.200 dan resistance 8.400.

Dalam kondisi ketidakpastian kebijakan dagang global, investor sebaiknya beralih ke sektor yang bersifat domestik atau yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas.

Baca Juga: Kembangkan Proyek Panas Bumi, Anak Usaha BREN Gandeng SLB

Misalnya, sektor energi. Alasannya, ketegangan dagang seringkali beriringan dengan ketegangan geopolitik yang mendongkrak harga energi.

David menyarankan investor untuk melirik saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

“Kedua emiten itu memiliki arus kas dalam dolar AS yang menjadi natural hedge saat rupiah tertekan,” ungkapnya.

Kemudian, sektor perbankan buku besar juga menarik dilirik. Meskipun pasar volatil, emiten perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tetap solid lantaran daya tahan ekonomi domestik yang kuat. 

“Mereka adalah jangkar IHSG yang biasanya paling cepat pulih saat sentimen mereda,” tuturnya.

Selanjutnya: Cek Waktu Maghrib Kota Kediri Senin (23/2): Jadwal untuk Buka Puasa Hari Ini

Menarik Dibaca: 6 Promo Ramadhan Es Teler 77: Jangan Lewatkan Beli 1 Gratis 1 hingga Diskon 50%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News