IHSG Rontok 39% & Asing Net Sell Hampir Rp 125 T, Investor Ritel Perlu Beli / Jual?
Rabu, 28 Oktober 2026 07:16 WIB
Oleh: Pulina Nityakanti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak volatil hingga akhir 2026. Tekanan jual investor asing, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian kebijakan suku bunga global menjadi sejumlah faktor yang membayangi pergerakan pasar saham domestik. Pada perdagangan Selasa (27/10/2026), IHSG ditutup melemah 1,99% ke level 5.266,13. Dalam sepekan, indeks terkoreksi 0,24%, sedangkan secara year to date (YTD) IHSG telah turun 39,10%. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, volatilitas pasar saham masih berpotensi berlanjut selama tekanan jual investor asing belum mereda dan nilai tukar rupiah belum menunjukkan penguatan yang konsisten.
Pada perdagangan Selasa, nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 17,9 triliun. Sementara itu, investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell sekitar Rp 708 miliar. Dengan demikian, akumulasi jual bersih asing di pasar reguler sepanjang 2026 mencapai Rp 124,9 triliun. Menurut Hendra, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan kepercayaan investor masih menjadi tantangan bagi pasar modal Indonesia. Tekanan yang terjadi tidak hanya berkaitan dengan fundamental emiten, tetapi juga persepsi risiko terhadap pasar saham domestik. “Khususnya, terkait transparansi kepemilikan saham, likuiditas, dan kepastian reformasi pasar modal,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (27/10/2026). Baca Juga: IHSG Rawan Melemah ke 5.118, Simak Rekomendasi Saham DSNG, CPIN, AADI, dan BRMS Harga minyak dan suku bunga global jadi perhatian Dari sisi eksternal, pergerakan IHSG turut dipengaruhi oleh dinamika bursa global, ketidakpastian arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve, serta kenaikan harga minyak mentah Brent yang disebut telah mencapai sekitar US$ 116 per barel. Hendra menilai, harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan biaya energi. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut juga dapat menambah tekanan terhadap defisit transaksi berjalan dan anggaran negara. Di sisi lain, perkembangan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), rencana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) perusahaan teknologi besar, serta publikasi kinerja emiten global berpotensi menjadi katalis positif bagi selera risiko investor. Namun, sentimen positif dari pasar global dinilai belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan di pasar domestik. “Oleh karena itu, dalam jangka pendek IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan selama arus keluar dana asing belum mereda dan rupiah belum menunjukkan penguatan yang konsisten,” ungkapnya. Tonton: Jakarta Bayar Bekasi Rp362 Miliar! Sampah 80 Juta Ton, Bantargebang Bisa Penuh? Evaluasi MSCI menjadi risiko bagi IHSG Memasuki akhir 2026 hingga awal 2027, arah IHSG juga akan dipengaruhi oleh upaya pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan BEI dalam memulihkan kepercayaan investor. Salah satu faktor yang perlu dicermati adalah evaluasi status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), termasuk konsultasi mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi menjadi Standalone Market. Keputusan final terkait isu tersebut dijadwalkan pada Juni 2027, berdasarkan informasi dalam materi yang disampaikan. Hendra menilai, risiko perubahan klasifikasi tersebut perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi persepsi investor global, alokasi dana yang mengikuti indeks, serta likuiditas saham domestik. Meski demikian, penurunan klasifikasi tidak serta-merta membuat seluruh saham Indonesia kehilangan daya tarik. Dampaknya akan bergantung pada keputusan akhir, mandat investasi masing-masing pengelola dana, serta perkembangan reformasi pasar modal. Menurut Hendra, peluang pemulihan IHSG masih terbuka apabila pemerintah dan regulator mampu memperbaiki transparansi kepemilikan saham, memperkuat penegakan aturan, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sebaliknya, apabila reformasi tidak berjalan efektif dan arus keluar dana asing berlanjut, tekanan terhadap indeks berpotensi bertahan hingga awal 2027. Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (27 Oktober 2026), Banyak Saham Tertekan Strategi investasi saat IHSG bergejolak Di tengah volatilitas pasar, Hendra mengingatkan investor agar tidak terburu-buru membeli saham hanya karena harganya telah turun tajam. Ia menyarankan investor lebih selektif dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat, arus kas sehat, tingkat utang terkendali, likuiditas perdagangan memadai, serta prospek bisnis yang masih terjaga. Investor juga perlu memperhatikan valuasi saham. Emiten dengan kualitas bisnis yang baik belum tentu menarik apabila dibeli pada harga yang terlalu tinggi. Sebaliknya, saham dengan fundamental lemah, utang besar, arus kas negatif berkepanjangan, likuiditas tipis, atau pergerakan harga spekulatif sebaiknya dicermati lebih hati-hati. Saham yang rentan terhadap pelemahan harga komoditas, kenaikan biaya pendanaan, maupun ketidakpastian kinerja juga memerlukan analisis lebih mendalam. Dalam kondisi pasar yang bergejolak, menjaga likuiditas portofolio dan membatasi ukuran posisi menjadi bagian penting dari pengelolaan risiko. “Investor dapat menerapkan pembelian bertahap dan menyiapkan batas risiko agar tidak terjebak mengambil keputusan emosional saat pasar terkoreksi,” paparnya. Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham MTEL, ERAA, dan LSIP untuk Perdagangan Rabu (28/10) Rekomendasi saham UNTR, AUTO, dan JPFA
Di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi, Hendra merekomendasikan strategi trading buy untuk tiga saham, yakni PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Berikut rekomendasi saham beserta target harga yang disampaikan Hendra:
Kode saham
Target harga
UNTR
Rp 27.500
AUTO
Rp 3.600
JPFA
Rp 2.000
Rekomendasi tersebut merupakan pandangan narasumber berdasarkan kondisi pasar saat informasi disampaikan. Investor tetap perlu mempertimbangkan harga saham terkini, profil risiko, serta hasil analisis fundamental dan teknikal sebelum mengambil keputusan investasi. Segala risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.
Asap Lintas Negara, Uang Diburu! Indonesia-Singapura Bentuk Satgas Pembakar Hutan?