IHSG Rontok Karena MSCI, 10 Saham Ini Punya Potensi Dividend Yield Tinggi Tembus 17%
Kamis, 22 Oktober 2026 05:38 WIB
Oleh: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat pengumuman MSCI membuka peluang bagi investor untuk mencermati saham-saham dengan potensi imbal hasil dividen atau dividend yield tinggi. Sejumlah emiten bahkan diproyeksikan menawarkan dividend yield dua digit, sehingga menarik dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang. IHSG ditutup menguat 0,94% ke level 5.328,36 pada Rabu (21/10/2026). Meski demikian, indeks sempat tertekan hingga menyentuh level terendah 5.185,36 sepanjang perdagangan. Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai koreksi harga saham perbankan berkapitalisasi besar membuat valuasinya semakin menarik. Investor dapat mempertimbangkan akumulasi secara bertahap, terutama pada saham dengan rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) di bawah satu kali.
"Terutama saham-saham perbankan yang sudah PBV-nya di bawah satu kali. Saya melihatnya sudah bisa dibeli, diakumulasi beli, akumulasi beli bertahapnya," ujar Sukarno dalam paparan daring, Selasa (20/10/2026). Menurut perhitungannya, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berpotensi menawarkan dividendyield sekitar 14%. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diperkirakan memiliki dividend yield sekitar 13%, sedangkan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) berpotensi mencapai 12%. Sukarno menyarankan investor mempertimbangkan pembelian secara bertahap apabila harga saham dinilai telah mendekati titik terendah. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan pasar sebelum menambah posisi. Ia mengingatkan sejumlah risiko eksternal masih membayangi pasar saham, mulai dari tingginya harga minyak, tekanan inflasi, pelemahan rupiah, hingga ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global. Baca Juga: Asing Net Sell Saat IHSG Menguat 0,93% ke 5.328, Cermati Saham yang Banyak Dijual Saham MPMX dan CNMA tawarkan dividend yield hingga 17,7% Selain saham perbankan, Tim Riset Stockbit menilai koreksi pasar dapat menjadi kesempatan akumulasi bagi investor jangka panjang, khususnya pada perusahaan dengan fundamental solid dan rekam jejak pembagian dividen. Dalam riset yang dirilis Rabu (21/10/2026), Stockbit mengidentifikasi sejumlah saham dengan potensi dividend yield menarik. Dua di antaranya adalah PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) dan PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA). MPMX diperkirakan memiliki dividend yield historis sebesar 17,7%, sedangkan CNMA mencapai 17,4%. Rata-rata dividend yield kedua emiten selama tiga tahun terakhir juga berada di kisaran 14%. Dari sisi bisnis, prospek MPMX dinilai relatif stabil seiring pertumbuhan penjualan sepeda motor. Adapun CNMA, pengelola jaringan bioskop Cinema XXI, ditopang oleh jumlah penonton yang relatif stabil serta ketersediaan film yang akan ditayangkan. Stockbit juga menyoroti saham PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) serta PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA). Keduanya tercatat memiliki dividend yield historis masing-masing sebesar 12,1% dan 11,1%. Sementara itu, rata-rata dividend yield tiga tahun SIDO mencapai 11,6% dan BNGA sebesar 10%. Stockbit memperkirakan dividend yield SIDO berpotensi mencapai 10% dengan asumsi laba bersih Rp 900 miliar dan seluruh laba dibagikan sebagai dividen. Untuk BNGA, potensi dividendyield diperkirakan sebesar 9,8% dengan asumsi laba bersih Rp 6 triliun dan rasio pembayaran dividen atau payout ratio sebesar 60%. Saham perbankan lainnya yang masuk dalam daftar Stockbit adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Emiten ini memiliki dividend yield historis sebesar 11,8%, dengan rata-rata tiga tahun mencapai 11,3%. Sementara itu, PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI) tercatat memiliki dividend yield historis sebesar 10,9% dan rata-rata tiga tahun sebesar 10,1%. Stockbit mengingatkan bahwa sentimen negatif masih berpotensi menekan pasar dalam jangka pendek. Karena itu, strategi akumulasi sebaiknya difokuskan pada saham dengan fundamental yang kuat dan prospek pembagian dividen yang berkelanjutan. Tonton: IHSG Menguat Hari Ini (21 Oktober 2026) UOB Kay Hian soroti ELSA, ASII, dan AADI Peluang saham berdividen tinggi juga menjadi perhatian Tim Riset UOB Kay Hian Sekuritas. Dalam riset bertanggal 20 Oktober 2026, sekuritas ini menekankan pentingnya menyeleksi saham berdasarkan kemampuan menghasilkan pendapatan, arus kas, dan kekuatan neraca keuangan. UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli untuk PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Ketiga saham tersebut diproyeksikan menawarkan dividend yield masing-masing sebesar 12,8%, 11,8%, dan 11,9% untuk 2026. Khusus AADI, potensi dividend yield berpeluang melampaui 12% apabila perusahaan membagikan dividen spesial setelah divestasi tambang Kestrel. Selain ketiga emiten tersebut, UOB Kay Hian memasukkan MSTI, PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (IPCC), PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), dan PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) dalam daftar saham yang layak dicermati untuk peluang pendapatan dividen.
Untuk PBID, UOB Kay Hian memperkirakan trailing dividend yield sebesar 10,6%, sedangkan proyeksi dividend yield 2026 berpotensi mencapai 15,6%. Namun, realisasi imbal hasil tersebut tetap bergantung pada kinerja perusahaan dan keputusan pembagian dividen. Investor perlu memahami bahwa dividend yield historis berbeda dari proyeksi imbal hasil mendatang. Yield yang tinggi juga tidak menjamin keuntungan apabila harga saham turun atau perusahaan membagikan dividen lebih kecil dari perkiraan. Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak hanya berpatokan pada besarnya dividend yield, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan laba, arus kas, kebijakan dividen, valuasi, serta risiko likuiditas saham sebelum mengambil keputusan investasi.
BI AKUI PENGUMUMAN MSCI BIKIN RUPIAH KEOK DUA HARI TERAKHIR