IHSG Tanpa Saham HSC, Valuasi Pasar Makin Menarik?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) berpotensi mengubah profil valuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menjelaskan sebelumnya pengecualian saham HSC, valuasi pasar saham Indonesia berada di Price Earning Ratio (PER) 10,76 kali dengan 

Price Book Value (PBV) 1,32 kali per 30 Oktober 2026. 


Dia bilang pengeluaran saham PER tinggi dapat menurunkan valuasi agregat, tetapi besar penurunannya harus dihitung ulang menggunakan kapitalisasi, laba, dan ekuitas konstituen yang tersisa dengan metode konsisten. 

Namun kalau merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan 3 November 2025, nilai pasar saham Indonesia berada di PER 10,32 kali dengan PBV sebesar 1,2 kali. 

Baca Juga: Pengecualian Saham HSC Belum Redam Tekanan IHSG, Simak Prospek Pasar ke Depan

“Secara nominal pengalinya terlihat rendah, tetapi diskon tersebut juga mencerminkan risiko tata kelola, rupiah, dan belum pulihnya kepercayaan investor,” jelasnya kepada Kontan, Selasa (3/11/2026). 

Menurutnya, pengecuali HSC membantu memperbaiki representasi indeks dan meningkatkan bobot relatif saham likuid. Ini hanya perubahan mekanis dan bisa hanya menghasilkan redistribusi portofolio sehingga tidak otomatis menarik dana asing baru. 

Liza mengatakan daya tarik investor asing yang berkelanjutan tetap bergantung pada free float yang dapat dipercaya, transparansi pemilik manfaat, penegakan hukum, serta kemampuan investor masuk dan keluar dalam jumlah besar

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menilai pengecualian saham HSC membuat profil valuasi IHSG menjadi lebih menarik, terutama karena sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar dan valuasi relatif tinggi tidak lagi diperhitungkan dalam indeks.

Rully menegaskan penurunan PER indeks akibat perubahan komposisi tidak sama dengan penurunan valuasi saham secara individual. Secara umum, dia melihat valuasi pasar saham Indonesia sudah jauh lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir. 

“Namun, rendahnya valuasi juga mencerminkan meningkatnya premi risiko Indonesia, terutama terkait ketidakpastian MSCI, pelemahan rupiah dan tekanan arus modal asing,” katanya. 

Karena itu, kata Rully, valuasi yang murah merupakan kondisi yang mendukung peluang pemulihan pasar tetapi belum cukup menjadi katalis bagi kenaikan IHSG secara berkelanjutan.

Baca Juga: Saham HSC Keluar dari IHSG, Siapa yang Jadi Penggerak Indeks?

Dia menyebut masih ada peluang investasi pada sejumlah saham dengan fundamental yang relatif kuat dan valuasi yang sudah mengalami penyesuaian cukup besar. Dari sektor perbankan, pilihan Mirae Asset Sekuritas jatuh pada BBCA. Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menyebut IHSG tanpa HSCl lebih  mencerminkan saham dengan kepemilikan tersebar dan likuiditas memadai berpotensi meningkatkan kepercayaan investor institusi, termasuk investor asing.

“Namun investor global masih akan mempertimbangkan perkembangan reformasi pasar modal, kepastian status Indonesia Dallas indeks MSCI, stabilitas rupiah, serta prospek pertumbuhan laba emiten,” katanya. 

Andrey bilang masih ada peluang investasi pada saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kuat, terutama sektor perbankan karena koreksi harga yang cukup dalam membuka potensi dividen yang menarik. 

Adapun RHB Sekuritas merekomendasikan beli BBCA dengan target harga di Rp 6.050 per saham, beli BMRI dengan target harga di Rp 4.730 per saham dan beli BBRI. Sementara Kiwoom Sekuritas merekomendasikan BBRI, BMRI  dan ASII. 

Baca Juga: BEI Depak Saham HSC dari Perhitungan IHSG, Ini Arti dan Perbedaan dengan Delisting

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News