IHSG Terancam Turun ke Kisaran 8.000, Dampak Memanasnya Konflik Timur Tengah



KONTAN.CO.ID - Eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) tak lagi sekadar persoalan geopolitik regional. Ketegangan dan konflik Timur Tengah yang makin meningkat menjelma menjadi risiko ekonomi global.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai memanasnya konflik di Timur Tengah mendorong pasar masuk ke fase risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman.

“Memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat bukan sekadar isu politik, tetapi sudah masuk ke ranah risiko ekonomi global. Pasar langsung merespons dengan pola risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Minggu (1/3/2026).

Harga emas menguat


Ia mencatat, harga emas menguat lebih dari 1 persen, sementara minyak mentah WTI dan Brent melonjak hampir 3 persen.

Lonjakan harga energi ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan dari Timur Tengah, kawasan yang menjadi pusat distribusi minyak dunia.

“Harga emas menguat lebih dari 1 persen, sementara minyak mentah WTI dan Brent naik hampir 3 persen. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah,” paparnya.

Baca Juga: Naik Rp 40.000 Per Gram, Lihat Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini Sabtu (28/2)

Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah Selat Hormuz.

Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi minyak tersibuk di dunia, dengan sekitar 30 persen perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut.

Jika eskalasi konflik mengganggu lalu lintas kapal tanker, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi karena pasar akan menghitung ulang risiko pasokan.

Dampaknya tidak berhenti pada harga energi. Lonjakan minyak berisiko mendorong inflasi global, menekan nilai tukar, serta mempengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara.

Dalam konteks tersebut, tekanan terhadap pasar modal Indonesia menjadi semakin relevan dan besar.

Baginya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tekanan datang dari dua sisi.

Pertama, potensi dana asing keluar (capital outflow) akibat investor asing mengurangi eksposur di emerging markets.

Kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi yang dapat meningkatkan biaya produksi emiten domestik.

“Bagi pasar modal Indonesia, tekanan bisa datang dari dua sisi. Pertama, potensi capital outflow karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market. Kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi,” beber Hendra.

Baca Juga: Panduan Bayar Tagihan BAF lewat BCA Lengkap: Cicilan Beres Tepat Waktu!

Skenario jika harga minyak tinggi, pilih saham apa?

Jika harga minyak bertahan tinggi, beban operasional perusahaan meningkat dan margin laba berpotensi tergerus.

Dalam skenario ini, IHSG berpotensi melemah dan menguji support klasik di level 8.133. Jika level tersebut ditembus, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya.

Sementara resistance terdekat berada di kisaran 8.300.

Meski dibayangi tekanan, tidak semua sektor terdampak negatif.

Sektor berbasis komoditas justru berpotensi menjadi penopang indeks. Kenaikan harga emas dan minyak membuka peluang bagi saham-saham tambang dan energi.

Hendra merekomendasikan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebagai trading buy dengan target Rp 3.900, serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan target Rp 4.500.

Kemudian, PT Elnusa Tbk (ELSA) dinilai menarik untuk trading buy dengan target Rp 900, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan target Rp 1.900, serta PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) sebagai speculative buy dengan target harga Rp 1.400.

Tonton: Konflik Iran-Israel AS Guncang Pasar Global: Dampak ke IHSG & Peluang Komoditas

Selain itu, PT Soechi Lines Tbk (SOCI) juga dinilai layak dicermati sebagai trading buy dengan target Rp 750, seiring meningkatnya aktivitas dan tarif pengangkutan energi di tengah volatilitas harga minyak global.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Konflik Timur Tengah Meluas, IHSG Terancam Turun ke Area 8.000"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: