IHSG Terkoreksi 0,14% Dalam Sepekan, Cek Proyeksinya untuk Pekan Depan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) IHSG ditutup menguat 0,40% atau naik 20,17 poin ke level 5.050,43 pada akhir perdagangan Jumat (6/11/2026). Dalam sepekan, IHSG terkoreksi 0,13%.

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda melihat IHSG menguat 0,40% ke level 5.050,43 pada Jumat (6/11/2026), sekaligus kembali menembus level psikologis 5.000 dan berada di dekat level tertinggi harian.

Menurut Reza, penguatan pasar ditopang oleh kombinasi sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, cadangan devisa Oktober meningkat menjadi US$ 146,8 miliar dari US$ 146,3 miliar pada bulan sebelumnya. Sementara itu, ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% YoY pada kuartal III-2026, melampaui ekspektasi pasar sebesar 5,20%.


Baca Juga: BEI Periksa Transaksi Saham NSSS, FUJI dan CASA, Ini Pihak yang Terlibat

Dari eksternal, pelemahan harga minyak dunia setelah perkembangan Pemilu Sela AS turut memberikan ruang bagi perbaikan sentimen pasar. Secara sektoral, penguatan terutama ditopang sektor financials yang naik 2,0% dan consumer non-cyclicals sebesar 1,1%. Adapun BBRI, BMRI, dan BBCA menjadi beberapa kontributor utama penguatan IHSG.

Memasuki pekan depan, Reza menyebut perhatian utama pasar tertuju pada MSCI November Index Review yang dijadwalkan pada 11 November 2026 atau 12 November dini hari WIB. Investor akan mencermati potensi perubahan konstituen dan bobot saham Indonesia, di tengah kekhawatiran mengenai transparansi pasar serta risiko reklasifikasi status Indonesia.

Hasil review berpotensi memicu penyesuaian portofolio dan meningkatkan volatilitas, khususnya pada saham berkapitalisasi besar. 

Selain itu, kalender ekonomi AS juga menjadi perhatian, terutama data inflasi Oktober yang dijadwalkan pada 10 November. Inflasi utama diperkirakan naik 0,6% secara bulanan, sementara inflasi inti diproyeksikan sebesar 0,3% MoM.

Selanjutnya, pasar juga akan mencermati data ketenagakerjaan AS, termasuk ADP Employment Change dan Nonfarm Payrolls, serta tingkat pengangguran yang menjadi indikator penting bagi arah kebijakan The Fed.

Secara teknikal, Reza melihat IHSG menunjukkan pemulihan setelah berhasil melakukan gap filling di area 4.920 dan kembali bergerak di atas 5.000. Namun, momentum penguatan masih perlu dikonfirmasi karena MACD berada di area negatif (-277), meskipun mulai mendekati signal line (-275), sementara posisi indeks masih di bawah MA20 di level 5.318.

Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (6 November 2026), PGAS dan SMGR Menguat

"Resistance terdekat berada di 5.072-5.127. Jika mampu menembus area tersebut, peluang penguatan menuju 5.305 terbuka. Sebaliknya, apabila kembali tertahan, IHSG berpotensi menguji support 4.920-4.960 dengan support lanjutan di 4.760-4.829," ujar Reza kepada Kontan, Jumat (6/11/2026). 

Di sisi lain, Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan dari sisi sentimen, ia mencermati Bursa Efek Indonesia (BEI) yang resmi mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan IHSG.

Sejumlah data makro Indonesia turut menjadi perhatian. Indeks manufaktur PMI Indonesia meningkat dari 52,4 pada September menjadi 54,0 pada Oktober. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% YoY pada kuartal III-2026, meningkat dari 5,29% pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, inflasi Oktober melandai menjadi 3,23% YoY.

Selain itu, pasar akan menanti rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) AS. Herditya juga mencermati tekanan jual asing yang masih mendominasi IHSG, dengan nilai net sell tercatat sebesar 65,53B berdasarkan data per Kamis.

"Sepekan ke depan, kami perkirakan IHSG berpeluang menguat terbatas dengan support 4.824 dan resistance 5.247," tutur Herditya. 

Dari sisi sentimen, pasar akan menanti MSCI Index November Review yang akan terjadi pada pekan depan. 

Selain itu, pasar akan mencermati rilis data makro China, seperti inflasi dan neraca perdagangan, serta inflasi AS. 

Selanjutnya, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga menjadi perhatian, mengingat pada pekan lalu rupiah bergerak melemah. Di sisi lain, arus keluar dana asing (outflow) dari IHSG masih berlangsung.

Dari sisi rekomendasi saham, Herditya menyarankan investor mencermati PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) pada rentang 1.010-1.115, PT Astra International Tbk (ASII) di kisaran 5.125-5.275, serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO) pada rentang 3.490-3.700.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News