KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada awal perdagangan Jumat (2/10), mengekor tekanan di bursa saham Asia di tengah volatilitas pasar obligasi global dan valuta asing. Mengutip data RTI, hingga pukul 09.14 WIB, IHSG turun 0,39% atau 23,290 poin ke level 5.986,212. Sebanyak 362 saham melemah, 204 saham menguat, dan 173 saham stagnan. Total volume perdagangan mencapai 43,8 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 2,3 triliun.
Baca Juga: Perkasa, Rupiah Spot Menguat 0,14% ke Rp 17.942 per Dolar AS pada Jumat (2/10) Pagi Sebanyak delapan indeks sektoral berada di zona merah dan membebani pergerakan IHSG. Penurunan terdalam terjadi pada sektor teknologi yang tercermin dari IDX-Techno sebesar 1,79%, disusul IDX-Infra yang turun 0,58% dan IDX-Finance melemah 0,38%. Di jajaran saham LQ45, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (
WIFI) menjadi salah satu saham dengan penurunan terdalam, yakni 6,81% ke Rp 1.505. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (
GOTO) turun 3,57% menjadi Rp 27, sementara PT Merdeka Battery Materials Tbk (
MBMA) terkoreksi 2,10% ke Rp 50. Sebaliknya, sejumlah saham masih mampu menguat. PT Astra International Tbk (
ASII) naik 1,33% ke Rp 4.570, PT Alamtri Resources Tbk (
ADRO) menguat 1,24% ke Rp 2.440, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (
ITMG) bertambah 1,22% ke Rp 24.950.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini (2/10): Turun Rp 5.000 Jadi Rp 2.576.000 per Gram Bursa Asia Melemah Tekanan terhadap IHSG sejalan dengan pergerakan bursa saham Asia yang melemah pada Jumat. Investor cenderung berhati-hati menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Melansir
Reuters, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,5% dan berada di jalur pelemahan sekitar 1,7% sepanjang pekan. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang terkoreksi 0,7%, meski masih mencatat kenaikan sekitar 3,1% dalam sepekan.
Baca Juga: Astra Graphia (ASGR) Batalkan Dividen Interim Rp 297, Begini Skema yang Baru Volatilitas pasar kembali dipicu pergerakan imbal hasil US Treasury. Yield US Treasury bertenor 10 tahun sempat melonjak ke 5,34%, level tertinggi sejak 2002, setelah mencatat kenaikan kuartalan terbesar dalam 32 tahun. Yield tersebut kemudian turun dan berada di sekitar 5,25% pada perdagangan Asia. Penurunan imbal hasil Treasury turut membantu Wall Street menguat pada akhir perdagangan sebelumnya. Kontrak berjangka Nasdaq naik 0,3%, sedangkan S&P 500 futures bertambah 0,1%. Investor kini menantikan data nonfarm payrolls AS yang dijadwalkan dirilis Jumat. Data tersebut menjadi perhatian karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed berikutnya. Sentimen Domestik Mengutip pada Sajian Menu Trading Pagi (SAPA MENTARI) dari BRI Danareksa Sekuritas, dari dalam negeri, sentimen pasar juga dibayangi ketidakpastian setelah reshuffle Kabinet Merah Putih, di tengah pergerakan rupiah dan pasar saham yang masih berfluktuasi. Di sisi lain, sejumlah indikator makroekonomi domestik memberikan sinyal beragam. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 tercatat US$ 3,55 miliar, menunjukkan kinerja perdagangan yang masih mencatat surplus.
Baca Juga: IHGS Diprediksi Koreksi pada Jumat (2/10), Cek Rekomendasi Saham BNI Sekuritas Namun, inflasi September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan (year on year/YoY), yang menunjukkan adanya peningkatan tekanan harga domestik. Pelaku pasar juga mencermati implementasi mekanisme short selling di pasar modal Indonesia. Perkembangan tersebut berpotensi meningkatkan dinamika perdagangan saham, terutama dari sisi aktivitas transaksi dan strategi investor. Selain faktor domestik, perhatian pasar tetap tertuju pada data tenaga kerja AS. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi investor dalam membaca kemungkinan arah suku bunga The Fed dan dampaknya terhadap pasar keuangan global, termasuk IHSG. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News