IHSG Terkoreksi 32% Hingga Juli 2026, Ini Dampaknya ke Kinerja Sekuritas 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi pasar modal yang masih tertekan sepanjang tahun ini memberikan dampak yang berbeda terhadap kinerja perusahaan sekuritas. Hal tersebut dipengaruhi oleh karakteristik bisnis dan segmen nasabah yang menjadi fokus masing-masing perusahaan.

Sebagai informasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terkoreksi 32,05% secara year to date (ytd) hingga akhir perdagangan Jumat (3/7/2026).

Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana mengatakan, penurunan IHSG yang disertai arus keluar dana asing (foreign outflow) membuat kondisi industri sekuritas pada 2026 menjadi lebih menantang. Namun, dampaknya tidak dirasakan secara merata oleh seluruh pelaku industri.


Baca Juga: Kebutuhan Dana Cepat Tinggi, Perusahaan Gadai Yakin Permintaan Pembiayaan Tumbuh

“Dengan penurunan IHSG dan juga arus keluar dana asing, kondisi 2026 memang menantang. Namun, dampaknya bisa berbeda pada tiap sekuritas,” ujar Wawan kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).

Menurut Wawan, perusahaan sekuritas yang melayani investor asing berpotensi mencatatkan peningkatan transaksi seiring maraknya aksi jual. Sementara itu, sekuritas yang berfokus pada investor ritel juga dapat memperoleh peningkatan volume transaksi karena adanya aksi akumulasi saham. 

Adapun perusahaan sekuritas yang lebih banyak menangani transaksi korporasi domestik berpotensi mengalami perlambatan bisnis.

Lebih lanjut, Wawan mengatakan rata-rata nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia pada Juni 2026 mencapai sekitar Rp 20 triliun per hari. Meski masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata transaksi harian sepanjang 2025 yang sekitar Rp 18 triliun, aktivitas perdagangan tersebut telah menurun dibandingkan saat IHSG berada di puncaknya, ketika nilai transaksi sempat mencapai sekitar Rp 30 triliun per hari.

Ia menilai, meski rata-rata nilai transaksi masih meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, aktivitas tersebut cenderung terkonsentrasi pada sejumlah perusahaan sekuritas tertentu.

“Di sisi lain, pendapatan perusahaan sekuritas tidak hanya berasal dari komisi transaksi saham, tetapi juga dari jasa penjaminan emisi efek (underwriting) dan pengelolaan aset melalui anak usaha manajer investasi,” terangnya.

Baca Juga: Pembiayaan Budi Gadai Melonjak 52,1% di Semester I-2026, Ini Pemicunya

Wawan menambahkan, jumlah investor saham masih menunjukkan pertumbuhan. Berdasarkan data C-BEST, jumlah investor saham meningkat dari sekitar 8,6 juta pada akhir 2025 menjadi sekitar 9,7 juta per Mei 2026.

Ke depan, Wawan berharap mulai pulihnya aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) pada Juli 2026 dapat mendorong peningkatan transaksi di pasar modal. 

Namun, ia menilai perusahaan sekuritas perlu memperkuat strategi diversifikasi pendapatan, meningkatkan kolaborasi dengan perbankan bagi yang memiliki induk usaha bank, serta mengintensifkan edukasi kepada investor, terutama di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News