IHSG Terkoreksi, Pasar Dibayangi Ketidakpastian Global dan Tekanan Jual



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA . Pasar saham Asia bergerak variatif dengan volatilitas tinggi sepanjang pekan ini, seiring meningkatnya ketidakpastian global yang menekan sentimen investor. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut terkoreksi cukup dalam dan mencatatkan pelemahan mingguan.

Pada Rabu (13/5/2026), IHSG ditutup melemah 1,98% ke level 6.723,32 dibandingkan hari sebelumnya. Secara akumulatif, indeks juga turun 3,53% dalam sepekan.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai tekanan pasar regional banyak dipengaruhi oleh perkembangan hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan China, termasuk ekspektasi dari pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping.


Baca Juga: Wall Street Ambruk, Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Inflasi Guncang Pasar

"Pelaku pasar masih mencermati ketidakpastian kebijakan tarif impor yang berpotensi menekan prospek pertumbuhan global," ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (15/5).

Selain isu dagang, investor juga memperhatikan pergerakan harga minyak dunia, data tenaga kerja AS, serta arah kebijakan suku bunga global. 

Menurut Nafan, inflasi di negara maju yang masih tinggi membuat bank sentral cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama dari perkiraan pasar.

Di sisi lain, konflik geopolitik di Timur Tengah turut memperkuat tekanan inflasi global melalui kenaikan biaya energi dan komoditas atau imported inflation.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG juga tidak kalah kuat. Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mencatat pasar saham domestik mengalami dominasi aksi jual sepanjang pekan.

"Selama sepekan ini IHSG didominasi oleh tekanan jual," kata Herditya.

Baca Juga: Sentuh Level Terendah Sepanjang Sejarah, Begini Prospek Rupiah ke Depan

Ia menjelaskan, tekanan tersebut dipicu oleh kombinasi faktor eksternal, termasuk inflasi AS yang masih tinggi sehingga membuka peluang suku bunga bertahan lebih lama, serta dampak rebalancing indeks global yang memicu arus keluar dana asing.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat berada di kisaran Rp 17.500 per dolar AS serta waktu perdagangan yang lebih singkat turut menambah tekanan di pasar.

Untuk awal pekan depan, Nafan memperkirakan IHSG berpotensi melakukan penyesuaian mengikuti pergerakan bursa global selama periode libur panjang.

"Biasanya ada catch-up terhadap pergerakan bursa global," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: