IHSG Terpangkas ke Level 6.394, Cermati Sinyal Kebijakan BI dan Lonjakan Minyak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah setelah sempat menguat pada perdagangan pekan ini.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI Business, IHSG melemah 0,86% atau terpangkas 55 poin ke level 6.394,12 pada penutupan perdagangan Rabu (19/8/2026).

Tekanan koreksi kembali melanda pasar saham domestik meski momentum bullish pada tren teknikal sejatinya masih berlaku.


Di tengah pergerakan indeks yang variatif, sikap investor cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan aksi beli masif sembari mencermati keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Baca Juga: FTSE Russell Tunda Rebalancing Saham RI, BEI Dapat Waktu Benahi Pasar

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, konsensus pasar sejatinya telah mengantisipasi langkah bank sentral untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75%.

Namun, fokus utama pelaku pasar kini bergeser pada sinyal kebijakan mendalam yang akan disampaikan otoritas moneter.

"Mengingat keputusan tersebut sudah cukup diantisipasi, perhatian justru akan tertuju pada forward guidance BI mengenai ruang pemangkasan suku bunga berikutnya, stabilitas rupiah, serta respons terhadap tekanan inflasi global akibat kenaikan minyak," kata Nafan kepada Kontan, Rabu (19/8/2026).

Dari mancanegara, ketegangan geopolitik AS-Iran di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga menembus US$ 92 per barel dan WTI ke level US$ 85 per barel.

Kondisi ini memperkuat kekhawatiran higher-for-longer yields setelah imbal hasil US Treasury 30 tahun melambung ke 5,33%, sekaligus memperketat ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

Meski demikian, sentimen positif dari dalam negeri tetap menjadi penahan laju koreksi IHSG.

Optimisme terhadap eksposisi RAPBN 2027 yang mematok target pertumbuhan ekonomi hingga 6% memberi buffering bagi pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar.

Di sisi lain, memanasnya harga komoditas energi dunia turut menghadirkan rotasi peluang bagi saham-saham di sektor terkait.

Menurut Nafan, situasi inflasi energi global justru menjadi amunisi tambahan bagi kinerja emiten di sektor pertambangan dan minyak bumi.

"Meskipun demikian, di sisi lain, memberi dampak positif bagi saham-saham sektor energi dan komoditas, misalnya PGAS, PTBA, ADMR, BUMI, dan sebagainya," tutup Nafan.

Baca Juga: Yield SBN Melandai, Intip Proyeksi Obligasi Tenor 5 dan 10 Tahun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News